Articles by "Sejarah"


Kisah Wafatnya Habib Abdul Qadir, Ayahanda Habib Syech Solo
.
Shaf pertama penuh berdesak-desakan. Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf mengisyaratkan kepada Habib Najib bin Thoha Assegaf agar maju ke shaf pertama di belakang beliau.

Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakkan itu Habib Najib bin Thoha berkata, “Shaf pertama telah penuh, wahai Habib.”

Mendengar jawaban itu Habib Abdul Qadir menjawab dengan penuh kewibawaan, “Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!”

Jawaban itu menjadikan Habib Najib bin Thoha spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu.

“Allaahu akbar”.

Shalat Jum’at mulai didirikan. Habib Abdul Qadir membaca surat al-Fatihah, lalu membaca surat setelahnya dalam keadaan menangis. Di rakaat kedua pada sujud terakhir, beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafasnya terdengar dari speaker masjid.

Karena sujud itu sudah sangat lama, maka Habib Najib bin Thoha memberanikan diri untuk menggantikan beliau.
“Allaahu akbar”, ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan.

Para jamaah berhamburan lari ke depan ingin mengetahui apa yang terjadi pada habib Abdul Qadir.
Saat itu mereka mendapati Habib Abdul Qadir tetap dalam keadaan sujud tak bergerak. Lalu tubuh yang bersujud itu dibalik oleh para jamaah, dan terlihatlah wajah Al-Habib Abdul Qadir Asssegaf.

MasyaAllah, setiap orang yang melihat wajah beliau, menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan air mata? Mereka melihat wajah Habib Abdul Qadir tersenyum dengan jelas sekali, tersenyum bahagia.

Habib Abdul Qadir wafat dalam keadaan menikmati amal yang paling terindah. Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu shalat berjamaah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu shalat Jum’at. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam shalat Jum’at. Di tempat yang paling utama, yaitu masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari Jumat.

Alfatihah

Ya Allah Ya Robb wafatkanlah kami dalam keadaan Husnul khatimah Aamiin Yaa Robbal'alamin

Kiriman Syarifah Alwiyah Ba'agil - Majlis Taklim Ar Roudhoh


"Kyai As'ad dan Kyai Mahrus Tak Takut Malaikat demi Tidak Menjabat"
.
.
Simbah Kakung (Gus Mus) pernah bercerita bahwa NU dulu punya tradisi selalu berebut menolak untuk memegang jabatan.
.
Kyai Bisri dan Kyai Wahab menolak menjadi Rais Akbar karena ada Kyai Hasyim Asy’ari.
.
Sepeninggal Kyai Hasyim, keduanya menolak, terlebih kyai lainnya.
.
Saat Kyai Wahab Hasbullah akhirnya bersedia, itu pun dengan konsensus Rais Akbar diganti dengan istilah Rais Am.
.
Saat Kyai Wahab Hasbullah sakit sepuh, muktamirin sepakat menunjuk Kyai Bisri Syansuri sebagai pengganti.
.
Namun beliau tetap menolak, menurut Kyai Bisri selama masih ada Kyai Wahab, meski beliau sakit dan hanya bisa sare-an (tiduran) saja, beliau tidak akan bersedia mengganti.
.
Sepeninggal Kyai Wahab Hasbullah, maka Kyai Bisyri Syansuri menjadi Rais Am.
.
Dan beberapa tahun kemudian beliau wafat.
.
Para Kyai sepuh berembuk memilih pengganti.
.
Saat itu, Kyai As’ad Syamsul Arifin yang ditunjuk untuk menjadi Rais Am dengan tegas menolak karena merasa belum pangkatnya.
.
Bahkan saat dipaksa oleh para kyai
.
Kyai As’ad berkata : “Meskipun Malaikat Jibril turun dari langit untuk memaksa saya, saya pasti akan menolak!!"
.
Dan beliau dawuh : “Yang pantas itu Kyai Mahrus Aly”
.
Kyai Mahrus Aly pun bereaksi saat namanya disebut Kyai As’ad, sembari berkata : “Jangankan Malaikat Jibril, kalaupun Malaikat Izrail turun dan memaksa saya, saya tetap tidak bersedia!”
.
Akhirnya musyawarah ulama memutuskan memilih Kyai Ali Maksum Krapyak yang saat itu tidak hadir.
.
_Rohimahumulloh Al-Faatihah..!_

#UlamaNusantara
#MajlisHirzulJausyan
-------

Kiriman Gus Fahmi Sy. - GARDA NU NUSANTARA

Biografi KH. M. Munawir Krapyak Yogyakarta

KH. M. Munawwir adalah putra KH. Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari. Dahulu, ada seorang ulama pejuang, KH. Hasan Bashari namanya, atau yang lebih dikenal dengan nama Kyai Hasan Besari ajudan Pangeran Diponegoro. Beliau sangat ingin menghafalkan Kitab Suci al-Quran namun terasa berat setelah mencobanya berkali-kali. Akhirnya beliau melakukan riyadhah dan bermujahadah, hingga suatu saat Allah Swt. mengilhamkan bahwa apa yang dicita-citakan itu baru akan dikaruniakan kepada keturunannya.

Begitu pula anak beliau, KH. Abdullah Rosyad, selama 9 tahun riyadhah menghafalkan al-Quran, ketika berada di Tanah Suci Makkah, beliau mendapat ilham bahwa yang akan dianugerahi hafal al-Quran adalah anak-cucunya.KH. M. MUNAWWIR PENDIRI PP. KRAPYAK YOGYAKARTA

KH. Abdullah Rosyad dikaruniai 11 orang anak dari 4 orang istri, salah satunya adalah KH. M. Munawwir yang merupakan buah pernikahan beliau dengan Nyai Khadijah (Bantul).

Masa Belajar KH. M. Munawwir

Guru pertama beliau adalah Ayah beliau sendiri. Sebagai targhib (penyemangat) nderes al-Quran, Sang Ayah memberikan hadiah sebesar Rp 2,50 jika dalam tempo satu minggu dapat mengkhatamkannya sekali. Ternyata hal ini terlaksana dengan baik, bahkan terus berlangsung sekalipun hadiah tak diberikan lagi.

KH. M. Munawwir tidak hanya belajar qira’at (bacaan) dan menghafal al-Quran, tetapi juga ilmu-ilmu lain yang beliau timba dari para ulama di masa itu, diantaranya;
• KH. Abdullah (Kanggotan – Bantul)
• KH. Kholil (Bangkalan – Madura)
• KH. Shalih (Darat – Semarang)
• KH. Abdurrahman (Watucongol – Magelang)

Setelah itu, pada tahun 1888 M. beliau melanjutkan pengajian al-Quran serta pengembaraan menimba ilmu ke Haramain (dua Tanah Suci), baik di Makkah al-Mukarramah maupun di Madinah al-Munawwarah. Adapun Guru-guru beliau di sana antara lain;
• Syaikh Abdullah Sanqara
• Syaikh Syarbini
• Syaikh Mukri
• Syaikh Ibrahim Huzaimi
• Syaikh Manshur
• Syaikh Abdus Syakur
• Syaikh Mushthafa
• Syaikh Yusuf Hajar (Guru beliau dalam qira’ah sab’ah)

Pernah dalam suatu perjalanan dari Makkah ke Madinah, tepatnya di Rabigh, beliau berjumpa dengan seorang tua yang tidak beliau kenal. Pak Tua mengajak berjabat tangan, lantas beliau minta didoakan agar menjadi seorang hafidz al-Quran sejati. Lalu Pak Tua menjawab: “Insyaa-Allah.” Menurut KH. Arwani Amin (Kudus), orang tua itu adalah Nabiyullah Khadhir As.

KH. M. Munawwir ahli dalam qira’ah sab’ah (7 bacaan al-Quran). Dan salah satunya adalah qira’ah Imam ‘Ashim riwayat Imam Hafsh. Berikut inilah Sanad Qira’ah Imam ‘Ashim riwayat Hafsh KH. M. Munawwir sampai kepada Nabi Muhammad Saw. yaitu dari:
1) Syaikh Abdulkarim bin Umar al-Badri ad-Dimyathi, dari
2) Syaikh Isma’il, dari
3) Syaikh Ahmad ar-Rasyidi, dari
4) Syaikh Mushthafa bin Abdurrahman al-Azmiri, dari
5) Syaikh Hijaziy, dari
6) Syaikh Ali bin Sulaiman al-Manshuriy, dari
7) Syaikh Sulthan al-Muzahiy, dari
8) Syaikh Saifuddin bin ‘Athaillah al-Fadhaliy, dari
9) Syaikh Tahazah al-Yamani, dari
10) Syaikh Namruddin ath-Thablawiy, dari
11) Syaikh Zakariyya al-Anshari, dari
12) Syaikh Ahmad al-Asyuthi, dari
13) Syaikh Muhammad ibn al-Jazariy, dari
14) Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Khaliq al-Mishri asy-Syafi’i, dari
15) Al-Imam Abi al-Hasan bin asy-Syuja’ bin Salim bin Ali bin Musa al-‘Abbasi al-Mishri, dari
16) Al-Imam Abi Qasim asy-Syathibi, dari
17) Al-Imam Abi al-Hasan bin Huzail, dari
18) Ibnu Dawud Sulaiman bin Najjah, dari
19) Al-Hafidz Abi ‘Amr ad-Daniy, dari
20) Abi al-Hasan ath-Thahir, dari
21) Syaikh Abi al-‘Abbas al-Asynawiy, dari
22) ‘Ubaid ibnu ash-Shabbagh, dari
23) Al-Imam Hafsh, dari
24) Al-Imam ‘Ashim, dari
25) Abdurrahman as-Salma, dari
26) Sadatina Utsman bin ‘Affan, ‘Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, ‘Ali bin Abi Thalib, dari
27) Rasulullah Muhammad Saw. dari
28) Robbul ‘Alamin Allah Swt. dengan perantaraan Malaikat Jibril As.

Beliau menekuni al-Quran dengan riyadhah, yakni sekali khatam dalam 7 hari 7 malam selama 3 tahun, lalu sekali khatam dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun, lalu sekali khatam dalam sehari semalam selama 3 tahun, dan terakhir adalah riyadhah membaca al-Quran selama 40 hari tanpa henti hingga mulut beliau berdarah karenanya.

Setelah 21 tahun menimba ilmu di Tanah Suci, beliau pun kembali ke kediaman beliau di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1909 M.

Akhlaq KH. M. Munawwir

KH. M. Munawwir selalu memilih awal waktu untuk menunaikan shalat, lengkap dengan shalat sunnah Rawatibnya. Shalat Witir beliau tunaikan 11 raka’at dengan hafalan al-Quran sebagai bacaannya. Begitu juga dalam mudawamah beliau terhadap shalat Isyroq (setelah terbit matahari), shalat Dhuha dan shalat Tahajjud.

Beliau mewiridkan al-Quran tiap ba’da Ashar dan ba’da Shubuh. Walau sudah hafal, seringkali beliau tetap menggunakan Mushaf. Bahkan kemanapun beliau bepergian, baik berjalan kaki maupun berkendara, wirid al-Quran tetap terjaga. Beliau mengkhatamkan al-Quran sekali tiap satu minggu, yakni pada hari Kamis sore. Demikianlah beliau mewiridkan al-Quran semenjak berusia 15 tahun.

Waktu siang beliau lewatkan dengan mengajarkan al-Quran, dan di waktu senggang beliau masuk ke dalam kamar khusus (dahulu terletak di sebelah utara Masjid) untuk bertawajjuh kepada Allah Swt. Sedangkan di malam hari beliau istirahat secara bergilir di antara istri-istri dengan demikian adilnya.

Beliau memiliki 5 orang istri, adapun istri kelima, dinikahi setelah wafatnya istri pertama, yakni;
1. Nyai R.A. Mursyidah (Kraton Yogyakarta)
2. Nyai Hj. Sukis (Wates Yogyakarta)
3. Nyai Salimah (Wonokromo Yogyakarta)
4. Nyai Rumiyah (Jombang – Jawa Timur)
5. Nyai Khadijah (Kanggotan – Yogyakarta)

Begitulah KH. M. Munawwir hidup beserta keluarga di tengah ketenangan, kerukunan, istiqamah dan wibawa, dengan berkah al-Quran al-Karim.

Orang hafal al-Quran (Hafidz) yang beliau akui adalah orang yang bertakwa kepada Allah, dan shalat Tarawih dengan hafalan al-Quran sebagai bacaannya.

Begitu besar pengagungan beliau terhadap al-Quran, sampai-sampai undangan Haflah Khatmil Quran hanya beliau sampaikan kepada mereka yang jika memegang Mushaf al-Quran selalu dalam keadaan suci dari hadats.

Pernah terjadi seorang santri asal Kotagede dengan sengaja memegang Mushaf al-Quran dalam keadaan hadats. Setelah diusut oleh KH. M. Munawwir, akhirnya santri tersebut mengakuinya. Atas pengakuannya, si santri dita’zir, kemudian dikeluarkan dari Pesantren dalam keadaan sudah menghafalkan al-Quran 23,5 juz.

Setiap setengah bulan sekali beliau memotong rambut. Juga tak pernah diketahui membuka tutup kepala, selalu tertutup, baik itu dengan kopyah atau sorban maupun keduanya. Menggunting kuku selalu beliau lakukan tiap hari Jum’at.

Pakaian beliau sederhana namun sempurna untuk melakukan ibadah, rapi dan bersetrika. Jubah, sarung, sorban, kopyah dan tasbih selalu tersedia. Pakaian dinas Kraton Yogyakarta selalu beliau kenakan ketika menghadiri acara-acara resmi Kraton. Untuk bepergian, beliau sering mengenakan baju jas hitam, sorban, dan sarung.

Beliau tidak suka makan sampai kenyang, terlebih lagi di bulan Ramadhan, yakni cukup dengan satu cawan nasi ketan untuk sekali makan. Jika ada pemberian bantuan dari orang, beliau pergunakan sesuai dengan tujuan pemberinya. Jika ada kelebihan, maka akan dikembalikan lagi kepada pemberinya.

Walau beliau termasuk dalam Abdi Dalem (anggota dalam) Kraton, namun beliau tidak suka mendengarkan pementasan Gong Barzanji. Sebagai hiburan, beliau senang sekali mendengarkan lantunan shalawat-shalawat, Burdah dan tentunya Tilawatil Quran.

Para santri beliau perintahkan untuk berziarah di Pemakaman Dongkelan tiap Kamis sore. Tiap berziarah, beliau membaca surat Yasin dan Tahlil. Apabila terjadi suatu peristiwa yang menyangkut ummat pada umumnya, beliau mengumpulkan semua santri untuk bersama-sama tawajjuh dan memanjatkan do’a kehadirat Allah, biasanya dengan membaca shalawat Nariyyah 4.444 kali atau surat Yasin 41 kali.

Selain mengasuh santri, beliau tak lantas meninggalkan tugas sebagai kepala rumah tangga. Tiap ba’da Shubuh, beliau mengajar al-Quran kepada segenap keluarga dan pembantu rumah tangga. Nafkah dari beliau, baik untuk istri-istri maupun anak-anak, selalu cukup menurut kebutuhan masing-masing. Suasana keluarga senantiasa tenang, tenteram, rukun, dan tidak sembarang orang keluar-masuk rumah selain atas ijin dan perkenan dari beliau.

Hampir-hampir beliau tak pernah marah kepada santrinya, selain dalam hal yang mengharuskannya. Pernah suatu waktu beliau tiduran di muka kamar santri, tiba-tiba bantal yang beliau pakai diambil secara tiba-tiba oleh seorang santri, sampai terdengar suara kepala beliau mengenai lantai. Lantas beliau memanggil santri yang mengambil bantal tadi seraya berkata: “Nak… saya pinjam bantalmu, karena bantal yang saya pakai baru saja diambil oleh seorang santri.”

Seringkali beliau memberikan sangu kepada santri yang mohon ijin pulang ke kampung halamannya, dan sangat memperhatikan kehidupan santri-santrinya. Para santri pun dianjurkan untuk bertamasya ke luar pesantren, biasanya sekali tiap setengah bulan, sebagai pelepas penat.

Sebagai layaknya seorang ulama, KH. M. Munawwir juga akrab dan sering mendapat kunjungan dari para ulama lain, diantaranya;
1) Murid-murid Syaikh Yusuf Hajar dari Madinah
2) KH. Sa’id (Gedongan – Cirebon)
3) KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
4) KH. R. Asnawi (Kudus)
5) KH. Manshur (Popongan)
6) KH. Siroj (Payaman – Magelang)
7) KH. Dalhar (Watucongol – Magelang)
8) KH. Ma’shum (Lasem)
9) KH. R. Adnan (Solo)
10) KH. Dimyati (Tremas – Pacitan)
11) KH. Idris (Jamsaren – Solo)
12) KH. Abbas (Buntet – Cirebon)
13) KH. Siroj (Gedongan – Cirebon)
14) KH. Harun (Kempek – Cirebon)
15) KH. Muhammad (Tegalgubuk – Cirebon)
16) Para Kyai dari Jombang dan Pare
17) Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan IX
18) B.R.T. Suronegoro
19) KH. Asy’ari (Wonosobo) yang merupakan teman semasa belajar di Tanah Suci.

Selain dikunjungi, beliau juga kerapkali mengadakan kunjungan balasan terhadap para ulama yang lain, seperti kepada KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. Ahmad Dahlan (Yogyakarta), maupun yang lainnya.

Beliau juga mendapat kepercayaan dari pihak Kraton untuk menjadi anggota JEMANGAH, yakni jama’ah shalat tetap yang terdiri dari 41 orang ulama, dimaksudkan sebagai penolak bencana Negara.

Dakwah KH. M. Munawwir

Sepulang dari Makkah pada tahun 1909 M, beliau lantas mendakwahkan al-Quran di sekitar kediaman beliau di Kauman. Tepatnya di sebuah langgar kecil milik beliau, tempat tersebut sekarang sudah menjadi Gedung Nasyiatul ‘Aisyiyyah Yogyakarta.

Lantas pindah ke Gading, tinggal bersama kakak beliau, KH. Mudzakkir. Namun karena berbagai sebab, juga atas saran dari KH. Sa’id (Pengasuh Pesantren Gedongan, Cirebon), pada tahun 1910 M beliau pun hijrah ke Krapyak setelah selesainya pembangunan tempat tinggal dan komplek pesantren di sana, di tanah milik Bapak Jopanggung yang kemudian dibeli dengan uang amal dari Haji Ali.

Pada 15 November 1910, Pesantren Krapyak mulai ditempati untuk mengajar al-Quran. Dilanjutkan dengan pembangunan Masjid atas prakarsa KH. Abdul Jalil.

Konon, KH. Abdul Jalil dalam memilih tempat untuk pembangunan masjid, adalah dengan menggariskan tongkatnya di atas tanah sehingga membentuk batas-batas wilayah yang akan dibangun masjid. Dengan kehendak Allah, wilayah yang dilingkupi garis itu tidak ditumbuhi rumput.

KH. M. Munawwir selalu mengerahkan segenap santri untuk melakukan amaliyah membaca surat Yasin tiap selesai pembangunan berlangsung. Pembangunan terus berlanjut secara bertahap, mulai dari masjid, akses jalan, dan gedung komplek santri hingga tahun 1930 M.

Di Pesantren Krapyak inilah beliau memulai berkonsentrasi dalam pengajaran al-Quran. Para santri sangat menghormati beliau, bukan karena takut, melainkan karena haibah, wibawa beliau.

Pengajian pokok yang diasuh langsung oleh KH. M. Munawwir adalah Kitab Suci al-Quran, yakni terbagi atas 2 bagian; BIN-NADZOR (membaca) dan BIL-GHOIB (menghafal). Santri bermula dari surat al-Fatihah, lantas Lafadz Tahiyyat sampai dengan shalawat Aali Sayyidina Muhammad, kemudian surat an-Nas sampai surat an-Naba’, baru kemudian surat al-Fatihah diteruskan ke surat al-Baqarah sampai khatam surat an-Nas.

Selain itu, pengajian kitab-kitab juga digelar sebagai penyempurna. Suatu hari pada tahun 1910, seorang santri dari Purworejo, yang dianggap mampu oleh beliau diperintahkan: “Ajarkanlah ilmu fiqh kepada santri-santri di hari Jum’at, biarlah mereka mengenal air.”

Begitu seterusnya berkembang, baik kitab fiqh maupun tafsir, makin menonjol disamping pengajian al-Quran yang utama. Beliau mengajar secara sistem MUSYAFAHAH, yakni sorogan, tiap santri langsung membaca di hadapan beliau. jika ada kesalahan beliau langsung membetulkannya.

Adab (Tata Krama) dalam pengajian al-Quran sangat beliau tekankan kepada para santri. Berbagai aturan dan ta’ziran beliau berlakukan terhadap para santri. Untuk santri yang telah khatam, maka dipanjatkanlah doa untuknya langsung oleh KH. M. Munawwir, lantas diberikanlah baginya sebuah Ijazah, yang intinya berisi pengakuan ilmu dari guru kepada muridnya serta Tarattubur-Ruwat (Urutan Riwayat) atau Sanad dari Sang Guru sampai kepada Rasulullah Saw. secara lengkap.

Banyak diantara murid-murid beliau yang juga meneruskan perjuangan di kampung masing-masing, berupa mendakwahkan Islam pada umumnya, dan pengajaran al-Quran pada khususnya. Misal;
1. KH. Arwani Amin (Kudus)
2. KH. Badawi (Kaliwungu – Semarang)
3. Kyai Zuhdi (Nganjuk – Kertosono)
4. KH. Umar (Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan – Solo)
5. Kyai Umar (Kempek – Cirebon)
6. KH. Noor (Tegalarum – Kertosono)
7. KH. Muntaha (Pesantren Al-Asy’ariyyah, Kalibeber – Wonosobo)
8. KH. Murtadha (Buntet – Cirebon)
9. Kyai Ma’shum (Gedongan – Cirebon)
10. KH. Abu Amar (Kroya)
11. KH. Suhaimi (Pesantren Tamrinus Shibyan, Benda – Bumiayu)
12. Kyai Syathibi (Kyangkong – Kutoarjo)
13. KH. Anshor (Pepedan – Bumiayu)
14. KH. Hasbullah (Wonokromo – Yogyakarta)
15. Kyai Muhyiddin (Jejeran – Yogyakarta)
16. Haji Mahfudz (Purworejo)

Untuk para Mutakharrijiin (Alumni), beliau senantiasa menjalin hubungan dan bimbingan, bahkan berupa kunjungan ke tempat masing-masing.

Karomah KH. M. Munawwir

KH. Abdullah Anshar (Gerjen – Sleman) mengetahui beliau wafat, maka menangislah ia serta mengatakan tak kerasan lagi hidup di dunia tanpa beliau. Setelah pulang ke rumah, KH. Abdullah langsung menyusul pulang ke Rahmatullah.

Kyai Aqil Sirodj (Kempek – Cirebon) dikala masih berusia sekitar 8 tahun belum bisa mengucap dengan jelas bunyi “R”. Namun setelah minum air bekas cucian tangan beliau, langsung dapat membaca “R” dengan jelas.

Kala mengajar, biasanya beliau sambil tiduran, bahkan kadang benar-benar tertidur. Namun bila ada santri yang keliru membaca, beliau langsung bangun dan mengingatkannya.

Saat baru berusia 10 tahun, beliau berangkat mondok kepada KH. Cholil di Bangkalan, Madura. Sampai di sana, saat akan dikumandangkan iqamat, KH. Cholil tidak berkenan menjadi imam shalat seraya berkata: “Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (yakni KH. M. Munawwir). Walaupun ia masih kecil tetapi ahli qira’at.”

Sewaktu awal di Tanah Suci, beliau mengirimkan surat kepada ayahnya, menyatakan niat untuk menghapalkan al-Quran. Namun ayah beliau belum memperkenankannya, sehingga berniat mengirimkan surat balasan. Namun, belum sempat mengirimkan surat balasan, sang Ayah sudah mendapat surat kedua dari putranya yang menyatakan bahwa ia sudah terlanjur hafal. Dihafalkannya dalam waktu 70 hari (keterangan lain menyatakan 40 hari).

Dan masih banyak lagi karomah KH. M. Munawwir yang lainnya.

Maqalah KH. M. Munawwir

1) Sebuah hadits riwayat Abi Hurairah Ra. bahwa Nabi Muhammad Saw. Bersabda: “Wahai Abu Hurairah, pelajarilah al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain. Tetaplah engkau seperti itu hingga mati. Sesungguhnya jikalau kamu mati dalam keadaan seperti itu, malaikat berhaji ke kuburmu sebagaimana kaum mukminin berhaji ke Baitullah al-Haram.”

2) Sebuah sya’ir: “Semua ilmu termuat di dalam al-Quran – Hanya saja orang-orang tak mampu memahami seluruh kandungannya.”

3) “Jikalau engkau bermaksud akan sesuatu, maka bacalah surat Yasin.”

4) “Kalau mengaji al-Quran, maka kajilah sampai khatam, supaya menjadi orang mulia.”

5) “Waktu luang yang tidak digunakan untuk nderes al-Quran adalah kerugian yang besar.

6) “Setelah seseorang hafal al-Quran, maka haruslah ia Tidak suka omong kosong dan tidak menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja mencari dunia.”

7) “Wahai putera dan menantuku yang mempunyai tanggungan al-Quran, apabila kalian belum lancar benar maka jangan sampai merangkap apapun baik berdagang ataupun lainnya.”

8) “Orang hafal al-Quran berkewajiban memeliharanya, maka dari itu jangan melakukan hal-hal -termasuk menuntut ilmu- yang tidak fardhu, sekiranya dapat menyebabkan hafalannya hilang.”

9) “Kalau kamu tidak mengaji qira’at sab’ah kepadaku, maka mengajilah kepada Arwani Amin Kudus.”

10) “Buah al-Quran adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.”

11) Beliau berkata kepada KH. Basyir: “Marilah uzlah seperti saya, guna mengajarkan al-Quran. Kalau kita memikirkan harta dunia, maka akan binasalah al-Quran nanti.”

12) Beliau berkata kepada putri beliau, Nyai Hindun: “Orang hafal al-Quran, mengamalkan isi kitab Majmu’ dan Mudzakarat, insya-Allah menjadi orang shalihah.”

13) Beliau tidak mengijinkan santri-santrinya menjadi Pegawai Negeri Pemerintah Penjajah pada waktu itu.

14) Beliau menyampaikan apa yang pernah diterima dari guru beliau, KH. Cholil Bangkalan: “Apabila hidayah tiba, permusuhan pun musnah. Jadilah engkau bagaikan Air, dibutuhkan oleh siapa dan apa saja. Jika tidak begitu, maka jadilah seperti Batu, tidak ada bahaya maupun manfaat (secara aktif –red). Janganlah engkau laksana Kalajengking, siapa melihat maka ia pun takut.”

15) “Seyogyanya engkau hadiahkan berkah surat al-Fatihah kepada segenap kaum muslimin yang masih hidup, lebih-lebih diwaktu tertimpa marabahaya atau berperangai buruk, barangkali dapat menjadi obatnya. Sebagaimana guru saya KH. Cholil pernah mengajarkan (di nomor 16).”

16) Beliau menyampaikan apa yang disampaikan guru beliau, KH. Cholil: “Teman-teman sekalian, jikalau engkau menghadiahkan berkah surat al-Fatihah jangan hanya kepada muslimin yang sudah meninggal saja, tetapi juga yang masih hidup, syukurlah jika kepadaku juga. Sebab Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda: ‘UDDA NAFSAKA MIN AHLIL QUBUUR (anggaplah dirimu termasuk ahli Qubur).”

17) “Apabila engkau memohon kepada Allah, maka mohonlah Kesejahteraan (‘Aafiyah).”

18) “Kelak di akhir jaman, Shin akan menguasai seluruh daerah.”

19) Sebuah sya’ir: “Aku tak bisa mendapatkan kembali apa yang telah meninggalkan diriku, baik dengan LAHFA (kalau), dengan LAITA (seandainya), ataupun dengan LAU-INNI (andaikan saya).”

20) “Selama saya masih hidup, puteraku yang lelaki selalu saya suruh memakai kopyah. Sedangkan yang perempuan segera saya carikan jodoh, tak usah menunggu orang lain yang datang melamarnya.”

Wafat dan Penerus KH. M. Munawwir

Sebagaimana manusia pada umumnya, KH. M. Munawwir menderita sakit selama 16 hari. Pada mulanya terasa ringan, namun lama-kelamaan semakin parah. Tiga hari terakhir saat beliau sakit, beliau tidak tidur.

Selama sakit, selalu berkumandanglah bacaan surat Yasin 41 kali yang dilantunkan oleh rombongan-rombongan secara bergantian. Satu rombongan selesai membaca, maka rombongan lain menyusulnya, demikian tak ada putusnya.

Akhirnya, beliau KH. M. Munawwir wafat ba’da Jum’at tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 M di kediaman beliau di komplek Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Dikala beliau menghembuskan nafas terakhir, ditunggui oleh seorang putri beliau, Nyai Jamalah, yakni ketika rombongan pembaca surat Yasin belum hadir.

Shalat Jenazah dilaksanakan bergiliran lantaran banyaknya orang yang bertakziyyah. Imam shalat Jenazah kala itu adalah KH. Manshur (Popongan – Solo), KH. R. Asnawi (Bendan – Kudus), dan besan beliau KH. Ma’shum (Suditan – Lasem).

Beliau tidak dimakamkan di kompleks Pesantren Krapyak, melainkan di Pemakaman Dongkelan, yakni sekitar 2 km dari kompleks Pesantren. Dan sepanjang jalan itulah, terlihat kaum muslimin dari berbagai golongan penuh sesak mengiring dan bermaksud mengangkat jenazah beliau, sampai-sampai keranda jenazah beliau cukup ‘dioperkan’ dari tangan ke tangan yang lain, sampai di Pemakaman Dongkelan.

Jenazah KH. M. Munawwir dikebumikan di sana, dan selama lebih dari seminggu pusara beliau selalu penuh dengan penziarah dari berbagai daerah untuk membaca al-Quran.

Beliau wafat meninggalkan Pesantren yang merupakan tonggak pemisah suasana. Suasana sebelum dibangun pesantren, Krapyak dikenal sebagai tempat rawan, penuh kegelapan, abangan dan sedikit yang menjalankan ajaran Islam. Bersamaan dengan didirikannya Pesantren, banyak pula usaha busuk dari golongan-golongan Klenik yang dengki dan selalu merintangi perintisan Pesantren.

Namun upaya-upaya itu musnah, dan suasana gelap beralih menjadi ramai dan meriah dengan alunan Ayat-ayat Suci al-Quran dengan segala konsekuensinya.

Almarhum KH. M. Munawwir berwasiyat, agar keluarga melanjutkan perjuangan Pesantren, tepatnya kepada 2 orang putra dan 4 orang menantu. Akan tetapi karena beberapa udzur, perjuangan Pesantren dikawal secara langsung oleh 3 tokoh yang dikenal sebagai Tiga Serangkai yakni;

1) KH. R. Abdullah Affandi (putra beliau dari Nyai R.A. Mursyidah asal Kraton Yogyakarta). Disamping menangani pengajian al-Quran, beliau juga mengurusi hubungan Pesantren dengan dunia luar. Beliau wafat pada 1 Januari 1968.

2) KH. R. Abdul Qadir (putra beliau dari Nyai R.A. Mursyidah asal Kraton Yogyakarta). Pada tahun 1953, para santri penghafal al-Quran dikelompokkan menjadi satu dalam sebuah wadah, yakni Madrasatul Huffadz yang disponsori oleh KH. R. Abdul Qadir, dibantu KH. Mufid Mas’ud (menantu KH. M. Munawwir), Kyai Nawawi (menantu KH. M. Munawwir) dan Hasyim Yusuf dari Nganjuk. Ada 2 sistem yang ditempuh di Madrasatul Huffadz. Pertama, adalah Sistem Perseorangan, yakni Kyai menurut kepada santri untuk menghafalkan suatu ayat, surat maupun juz. Kedua, adalah Sistem Jama’ah Mudarasah, yakni seorang santri disuruh menghafal suatu ayat, surat atau juz, kemudian membacanya lantas berhenti dan dilanjutkan oleh santri yang lain, demikian sampai khatam 30 juz. Untuk mentashhih kembali hafalan santri-santri yang sudah khatam, maka diharuskan melakukan ‘Ardhah secara Musyafahah sampai tiga kali khatam. Untuk menguji kelancaran hafalan, adalah dengan dibacanya suatu ayat oleh Kyai dan santri disuruh melanjutkannya. Begitu pula ditanyakan kepada santri tentang letak ayat tersebut dalam surat apa, halaman berapa, bagian mana, lembar kiri atau kanan, ayat nomor berapa, sampai surat baru masih berapa ayat lagi. Seperti itulah seluk beluk menghafalkan al-Quran di Madrasatul Huffadz saat itu. Setelah hafal seluruh al-Quran, maka selama 41 hari dilanjutkan Mudarasah (nderes) dengan mengkhatamkan 41 kali juga. KH. R. Abdul Qadir wafat pada 2 Februari 1961.

3) KH. ‘Ali Ma’shum (menantu beliau asal Lasem, suami dari Nyai Hj. Hasyimah). Beliau sudah turut mengasuh Pesantren sejak 1943. Beliau adalah perintis dan pengasuh pengajian kitab-kitab selepas KH. M. Munawwir wafat, yakni sejak kepulangan beliau dari Tanah Suci dalam rangka menimba ilmu. Dalam penyelenggarannya, beliau menerapkan beberapa sistem, yakni Sistem Madrasi (Klasik) dan Sistem Kuliyah, yang masing-masing dilengkapi dengan Pengajian Sorogan (individual). Adapun Pengajian Sorogan ini, beliau berlakukan dengan model Semi-Otodidak, yakni dengan ditentukannya suatu kitab oleh KH. ‘Ali Ma’shum untuk dikaji seorang santri. Tiap sore hari, santri tersebut harus menghadap beliau untuk membaca kitab. Dalam hal ini, santri harus berusaha mempelajarinya sendiri, baik dalam cara membaca maupun menela’ah maknanya, baik dengan bertanya maupun berdiskusi dengan rekan dan kitab yang sudah ada maknanya. Sedangkan KH. ‘Ali Ma’shum cukup menyimak bacaan santri sambil mengajukan beberapa pertanyaan, dan membenarkan jika ada kesalahan membaca maupun memahami isinya. Dengan sistem ini, beliau maupun santri telah banyak menghemat waktu serta membuahkan hasil yang memuaskan lagi cermat. KH. ‘Ali Ma’shum wafat pada 1989.

Demikianlah estafet kepemimpinan Pesantren terus bergulir, semakin berkembang seiring bertambahnya usia, baik dalam metode maupun corak Pesantren, namun tak lepas dari sentuhan khas salafiyahnya. Dan tentunya, tetap berkonsentrasi pada misi awal yang dirintis Sang Muassis (Pendiri), yakni membumikan al-Quran, memasyarakatkan al-Quran dan meng-al-Quran-kan masyarakat.

Biografi ini disadur dari Buku yang berjudul “MANAQIBUS SYAIKH: K.H.M. MOENAUWIR ALMARHUM: PENDIRI PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA” yang diterbitkan oleh MAJLIS AHLEIN (Keluarga Besar Bani Munawwir) Pesantren Krapyak, keluaran tahun 1975. Jadi jika Anda ingin meng-COPYPASTE biografi beliau ini, mohon SERTAKAN PULA SUMBERNYA, yakni buku tersebut.

Kiriman Gus Shomad - Alumni Qudsiyyah 2005


SIAPA YANG TAK KENAL BELIAU??

Sekilas biografi
KH. Maksum Jauhari atau yang biasa dipanggil dengan Gus Maksum adalah putra dari pasangan KH. Abdullah Jauhari dengan Nyai Aisyah. Beliau lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944.

Selain itu, Gus Maksum juga merupakan salah seorang cucu pendiri PP Lirboyo KH. Manaf Abdul Karim.

Wafat
KH. Maksum Jauhari wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 dan dimakamkan di pemakaman keluarga PP Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.

Pendidikan
Semasa kecil KH. Maksum Jauhari belajar kepada orang tuanya KH. Abdullah Jauhari di Kanigoro. Kemudian melanjutkan pendidikan formalnya di SD Kanigoro (1957), setelah lulus, beliau melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, beliau lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga

Guru Gus Maksum
KH. Maksum Jauhari muda menuntut ilmu dengan mengaji dan sekolah seperti umumnya, juga belajar ilmu kanuragan ke banyak wilayah dengan mendatangi para ahli yang menjadi kebutuhannya, di antara gurunya antara lain:

KH. Jamaludin Batokan (Kediri)
KH. Jufri, Mbah Jipang
(Kediri)
Kiai Muhammad Batokan (Kediri)
Ahmad Fathoni (Pendekar dari Rengas Dengklok, Karawang, Jawa Barat) ahli ilmu pencak aliran Cikaret dan Cikalong
KH. Kasidak (Kediri - Blitar)
Haji Munawar, Jabang, Kediri
Haji Muhajir, Mondo, Kediri
Haji Zaenal, Kediri
KH. Mansur, Kali Pucung, Blitar
KH. Ahmad, Kemuning, Kediri
KH. Ibrahim, Banjar Melati, Kediri
Habib Jufri, Mrican, Kediri
Habib Baharun, Mrican, Kediri
KH. Mahrus Ali
(Lirboyo, Kediri)
KH. Ya'kub (Lirboyo, Kediri)
KH. Ilyas (Buntet, Cirebon)
Kiai Busro (Buntet, Cirebon)
Murid Gus Maksum
Banyak yang menjadi santri KH. Maksum Jauhari, di antara yang masyhur antara lain:

KH. Suharbillah (Penasihat PSNU Pagar Nusa)

Pendiri Pagar Nusa
Pada awalnya, para ulama-pendekar merasa gelisah karena belum ada wadah untuk mengumpulkannya. Akhirnya H. Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya menemui KH. Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar, setelah mendapatkan jawab dari KH. Mustofa Bisri akhirnya, mereka lalu bertemu dengan Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri.

Pada tanggal 12 Muharrom 1406 M bertepatan tanggal 27 September 1985. Mereka berkumpul di PP Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon, bahkan dari pulau Kalimantan pun datang. Tapi sayangnya belum mendapatkan hasil.

Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di PP Lirboyo Kediri, Jawa Timur. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa yang merupakan kepanjangan dari Pagarnya NU dan Bangsa.

Setelah resmi dibentuk, para musyawirin pun menunjuk Gus Maksum sebagai ketua umumnya. Pengukuhan Gus Maksum sebagai ketua umum Pagar Nusa itu dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH. Ahmad Sidiq.

Karomah Gus Maksum
Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandraguna. Berikut ini merupakan beberapa karomah yang dimiliki oleh Gus Maksum.

Keistimewaan sejak kecil

Keistimewaan-keistimewaan Gus Maksum sudah tampak sejak kecil.pada waktu itu Gus Maksum kecil mampu melompat melayang dari satu tiang ketiang yang lainnya di masjid Kanigoro, ia juga mampu berputar cepat diatas piring tanpa pecah laksana Gangsing,padahal waktu itu ia belum mahir ilmu silat.

Gus Maksum kecil juga pernah melempar seekor kuda seperti melempar sandal.padahal waktu itu bobot angkatan beliau tidak lebih dari 20 Kg.

Dimasa remaja Gus Maksum pernah membantu salah seorang familinya untuk memasang lembu bajakannya.ketika hendak memasang tiba-tiba lembu itu mengamuk dan dengan cepat dan kuat menerjang kearah dada Gus Maksum dengan reflex beliau menangkis dan berbalik menerkam, dan apa yang terjadi membuat semua orang yang melihatnya heran karena lembu itu terpelanting beberapa meter jauhnya,menanggapi kejadian tersebut Gus Maksum hanya berkata semua hanyalah kebetulan saja dan berkat pertolongan Allah SWT.

Rambut tidak mempan dipotong / Kiai Gondrong

Penampilan Gus Maksum dengan rambut gondrongnya bukan sekedar gaya atau hobi semata. Tetapi Rambut Gondrongnya itu merupakan sebuah ijazah yang didapat dari guru beliau yaitu Habib Baharun Mrican Kediri, hasil dari pengamalan itu sering terjadi keanehan keanehan terkait dengan rambut beliau ini, seperti rambut beliau bisa berdiri, bisa mengeluarkan api, serta tidak mempan dipotong.

Bukti daripada itu adalah, pada decade 1970-an beliau pernah terjaring razia rambut panjang. Namun terjadi keanehan, setiap kali aparat menggunting rambutnya, rambut itu tidak terpotong bahkan setiap gunting yang tajam beradu dengan rambut beliau selalu mengeluarkan percikan api. Kejadian ini pernah dimuat di harian republika.

Menaklukan Jin

Berbicara tentang Gus Maksum orang awam biasanya akan langsung berasosiasi tentang jin, tapi apakah benar Gus Maksum memelihara jin seperti banyak diperbincangkan orang?

Anggapan ini tidaklah benar, yang benar Gus Maksum tidak pernah memelihara jin, tapi kalau beliau sering menaklukan jin yang mengganggu itu memang benar, Gus Maksum pernah menaklukan Patihnya jin namanya Jin Dempul ketika Gus Maksum menolong orang yang kesurupan, orang tersebut berhasil disembuhkan Gus Maksum setelah jin didalam tubuh orang itu berhasil ditaklukan.

Menghadapi Puluhan Orang Sendirian

Salah satu kisah yang menunjukan keberanian Gus Maksum adalah ketika beliau harus bentrok dengan orang-orang PKI di alun-alun. Gus Maksum yang waktu itu sangat muda usianya mampu mengalahkan mereka semua.

Dalam pertempuran itu Gus Maksum bukan hanya menggunakan olah kanuragan tapi juga dengan olah batinnya.

Peristiwa lain ketika Gus Maksum diundang menghadiri pertandingan silat di Kediri Timur, saat itu beliau bertarung melawan pendekar silat, jago duel dari berbagai macam aliran silat yang sudah berkumpul disitu. Karena telah memiliki bekal dan kemampuan yang terlatih sejak kecil Gus Maksum mengalahkan puluhan pesilat sendirian. Bahkan lawan terakhir berhasil dikalahkan dengan sangat mudah peristiwa ini terjadi saat usia beliau 16 Tahun.

Dan itulah peristiwa paling dramatik membuat para pendekar lainnya harus mengakui kemampuan Gus Maksum di dunia persilatan

Ban Bocor hanya Dengan Acungan Jari

Saat NU masih menjadi partai massa NU sering bentrok dengan massa LDII dulu bernama Darul Hadits waktu itu termasuk underbow dari GOLKAR, suatu ketika massa LDII/Golkar berkonvoi melewati jalan depan Pesantren Lirboyo, saat itu Gus Maksum sedang menerima tamu.

Ketika arak-arakan itu sampai depan ndalem Gus Maksum, beliau langsung keluar karena mendengar bising suara knalpot dan klakson kendaraan yang memekakan telinga. Melihat gelagat yang kurang baik ini secara reflek Gus Maksum mengacungkan jari telunjuknya kearah mereka.

Keajaiban pun terjadi dengan serta merta seluruh ban kendaraan yang mereka tumpangi bocor secara serentak, karena bannya bocor rombongan konvoi itu tidak bisa melanjutkan arak-arakan. Akhirnya terpaksa mereka pulang dengan mendorong kendaraannya masing-masing.

Tidak Mempan Senjata Tajam

Hal ini terbukti saat beliau melawan orang-orang PKI dahulu. Setiap Bacokan dan tebasan senjata tidak pernah bisa mengenai tubuh beliau, bahkan senjata lawan selalu berhenti jarak satu kilan dari tubuhnya. Kalaupun ada yang sampai mengenai tubuh beliau, senjata-senjata tak ada satupun yang melukai beliau.

Keistimewaan ini juga terbukti ketika beliau di undang pengajian di daerah Sragen Jawa Tengah pada tahun 1999. Waktu itu tanpa ada sebab yang jelas tiba-tiba ada orang yang menikamnya Untungnya Gus Maksum tidak terluka sedikitpun hanya pakaian yang dipakai robek kena tikaman, lalu pakaian itupun beliau simpan karena pemberian dari salah seorang sahabatnya.

Tidak Mempan di Santet

Kalau bicara santet, banyak sekali pengalaman yang beliau dapatkan,Hampir semua aliran ilmu santet di kenalnya,dan sudah tidak terhitung banyaknya dukun santet yang pernah dihadapi, sejak kecil Gus Maksum sudah terbiasa menghadapi berbagai macam-macam aliran ilmu santet. Beliau juga tidak segan-segan untuk menantang para dukun santet secara terang-terangan. Hal itu dilakukan karena santet menurut Gus Maksum termasuk kemungkaran yang harus dilawan.

Kekebalan Gus Maksum terhadap santet juga sudah pembawaan sejak lahir, karena beliau juga masih keturunan Kiai Hasan Besari (ponorogo). Menurut Gus Maksum sebagai muslim tidak perlu khawatir terhadap santet, karena santet hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kufur atau murtad,yang penting seorang muslim haruslah selalu ingat kepada Allah dan bertawakal kepadaNya.

Diantara pengalaman Gus Maksum mengenai santet diantaranya dialaminya ketika menginap di desa Wilayu, Genteng, Banyuwangi, sekitar jam setengah dua malam,saat beliau hendak istirahat, tiba-tiba dari arah kegelapan muncul bola api sebesar telur terbang menuju kearah pahanya.Dengan santai Gus Maksum membiarkan bola api itu mendekatinya.Ketika bola api itu sampai ke paha, Beliau berkata ”Banyol tah (mau bercanda ya?) seketika itu juga bola api itu melesat pergi ditengah kegelapan malam.

Satu lagi kejadian yang pernah dialaminya, ketika bermalam didesa Kraton, Ranggeh saat Gus Maksum beristirahat, beliau di datangi kera jadi-jadian yang berusaha mencekiknya,tapi usaha itu dibiarkannya saja,setelah beberapa lama baru ditanya Gus Maksum “mau main-main ya? Langsung saja kera itu lari menghindar dari Gus Maksum.

Surat Sakti

Gus Maksum pernah kedatangan tamu dari semarang yang mengeluhkan kelakuan putranya yang suka mabuk-mabukan dan sering pergi kelokalisasi, bahkan putranya sering mengancam akan membunuh orang tuanya.Karena sudah tak tahan melihat kelakuan putranya itu, ia pergi kerumah Gus Maksum di Kediri, dengan harapan mendapat obat untuk mengobati prilaku anaknya. Tapi yang diharapkan tidak dipenuhi Gus Maksum. Beliau hanya membuatkan sepucuk surat untuk dibawa pulang agar dibacakan kepada anaknya.

Walaupun orang tua itu bingung karena obat yang di harapkannya tidak diberi, ia tetap melakukan apa yang diperintahkan Gus Maksum dengan menyampaikan surat itu kepada anaknya dan begitulah setelah surat itu dibacakan kepada anaknya, dalam waktu singkat kelakuan anaknya yang sebelumnya tidak bisa dikendalikan perlahan berubah. Singkatnya kelakuan anak itu tidak lagi nakal seperti dulu.

Penumpasan PKI

Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum Jauhari menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri.

Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif.

Penakluk Hewan Buas

Ada suatu kisah menceritakan, jika KH. Maksum Jauhari melewati hutan, semua hewan buas di hutan akan takluk dan patuh kepada beliau, seperti harimau, ular besar hingga serigala langsung menundukkan kepalanya, peristiwa tersebut sudah banyak dan biasa disaksikan sahabat-sahabatnya.

Walahualam.... 

Alfatihah..

Kiriman Neng Rumiati Nisa - Silaturrahim NU


FOTO LANGKA

Foto asli Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari bersama putera pertamanya, Abdullah (dipangku) dan keponakannya ketika menuntun ilmu di Makkah.
Abdullah adalah putera pertama Mbah Hasyim dengan istri pertamanya, Nyai Khodijah (puteri Kiai Ya'qub, pengasuh ponpes Al-Hamdaniyah, desa Siwalanpanji, kecamatan Buduran, Sidoarjo).

Singkat cerita

Kiai Hasyim Asy'ari ketika masih muda pernah nyantri dipondok asuhan Kiai Ya'qub. Karena terlihat sebagai seorang pemuda yang alim dan cerdas maka Kiai Ya'qub menikahkan Kiai Hasyim dengan puterinya, Nyai Khodijah pada tahun 1892. Waktu itu usia Mbah Hasyim masih 21 tahun. Setelah menikah 1 tahun kemudian Kiai Hasyim mengajak istrinya dan mertuanya dan juga kerabat yang lain untuk ibadah haji dan menuntun ilmu di Makkah. Disana beliau memiliki putera pertama bernama Abdullah. Tetapi istrinya itu telah meninggal dunia di Makkah. Tak lama kemudian puteranya yang masih balita itu juga menyusul ibunya meninggal dunia. Luka hati yang mendalam sehingga Kiai Hasyim Asy'ari memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya dan melanjutkan pencarian ilmu di Tanah kelahirannya.

Foto: dokumen_siwalanpanji
Sumber: ceritatebuireng

Kiriman Gus Abd Ghoni - Sarkub Indonesia Barokah 


KH Bisri Syansuri Ulama Barisan Fiqih Indonesia 

Abdullah Alawi 

 KH Bisri Syansuri adalah salah seorang kiai pendiri NU yang dinilai menyelesaikan persoalan melalui pendekatan fiqih murni. Pandangan ini terkadang sering bertolak belakang dengan kiai pendiri NU yang lain, yaitu KH Abdul Wahab Chasbullah yang ahli di bidang ilmu ushul fiqih. Meski demikian, keduanya menyandarkan pendapat pada literatur keilmuan Islam yang luas, buah kaderisasi langsung dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama pinilih lain.   

 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebutnya kakeknya itu sebagai kiai dalam barisan fiqih bersama teman-temannya yang lain, di antaranya Abdul Manaf dari Kediri, As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo Ahmad Baidowi dari Banyumas, Abdul Karim dari Sedayu, Nahrawi dari Malang, Maksum Ali dari Pesantren Maskumambang di Sedayu dan lain-lain. Barisan peminat fiqih dan penganut hukum agama yang tangguh ini menjadi kiai-kiai pesantren yang sekarang ini merupakan pusat pendalaman ilmu-ilmu agama di pulau Jawa.   Menurut Gus Dur yang mengutip perkataan Kiai Syukri Ghozali, mereka adalah generasi terbaik yang langsung dididik oleh Kiai Haji Hasyim Asy'ari.    

Kecenderungannya terhadap fiqih Kiai Bisri ini akan kelihatan menonjol dalam kehidupannya baik sebagai seorang kiai maupun ketika ia memimpin Nahdlatul Ulama.   Proses Belajar  

 Kiai Bisri dilahirkan di pada hari Rabu tanggal 28 Dzulhijjah tahun 1304 H atau 18 September 1886 di Tayu, Pati. Semasa kecil, Bisri belajar pada KH Abd Salam, seorang ahli dan hafal Al-Qur’an dan juga ahli dalam bidang fiqih. Atas bimbingannya ia belajar ilmu nahwu, saraf, fiqih, tasawuf, tafsir, hadits. Gurunya itu dikenal sebagai tokoh yang disiplin dalam menjalankan aturan-aturan agama. Watak ini menjadi salah satu kepribadian Bisri yang melekat di kemudian hari.    Sekitar usia 15 tahun, tiap bulan Ramadhan, Bisri mulai belajar ilmu agama di luar tanah kelahirannya, pada kedua tokoh agama yang terkenal pada waktu itu yaitu KH Kholil Kasingan Rembang dan KH Syu’aib Sarang Lasem.    

Kemudian ia melanjutkan berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Di pesantren inilah ia kemudian bertemu dengan Abdul Wahab Chasbullah, seorang yang kemudian menjadi kawan dekatnya hingga akhir hayat di samping sebagai kakak iparnya.     

Lalu Bisri berguru kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Di pesantren itu, ia belajar selama 6 tahun. Ia memperoleh ijazah dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang terkenal dalam literatur lama mulai dari kitab fiqih Al-Zubad hingga ke kitab-kitab hadits seperti Bukhari dan Muslim.   

Gus Dur menilai literatur keagamaan yang dikuasai Kiai Bisri terasa terlalu bersifat sepihak karena lebih ditekankan pada literatur fiqih yang lama, tapi penguasaan itu memiliki intensitas luar biasa sehingga secara keseluruhan membentuk sebuah kebulatan yang matang dalam kepribadiannya dan pandangan hidupnya.   

 Pada tahun 1912 sampai 1913 Kiai Bisri Syansuri berangkat melanjutkan pendidikan ke Makkah bersama Abdul Wahab Chasbullah. Di kota suci  itu, mereka belajar kepada Syekh Muhammad Bakir Syekh Muhammad Said Yamani Syekh Ibrahim Madani, dan Syekh Al-Maliki. Juga kepada guru-guru Kiai Haji Hasyim Asy'ari, yaitu Kiai Haji Ahmad Khatib Padang dan Syekh Mahfudz Tremas.    Mendirikan Pesantren Perempuan  Sepulang dari Makkah, Kiai Bisri mendirikan pesantren di Denanyar, Jombang. Pada tahun 1919 KH Bisri Syansuri membuat percobaan yang sangat menarik yaitu dengan mendirikan kelas untuk santri perempuan di pesantrennya. Para santri putri itu adalah anak tetangga sekitar yang diajar di beranda belakang rumahnya.    

Menurut Gus Dur, langkah Kiai Bisri tersebut terbilang aneh di mata ulama pesantren, namun itu tidak luput dari pengamatan gurunya yaitu Kiai Hasyim Asy'ari yang datang di kemudian hari melihat langsung perkembangan kelas perempuan tersebut.   Meskipun tidak mendapatkan izin khusus dari Kiai Hasyim, Kiai Bisri tetap melanjutkan kelas perempuan tersebut karena sang guru juga tidak memberikan larangan. Bagi Gus Dur, ini adalah hal yang menarik. Sebab, ketika sahabat-sahabat karibnya saat di Makkah mendirikan cabang Sarekat Islam, Kiai Bisri tidak ikut karena dia menunggu izin dari Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Namun ketika mendirikan kelas khusus perempuan dia tidak menunggu mendapatkannya.    

Bagi Gus Dur ini adalah sebuah proses pematangan dalam fiqih Kiai Bisri yang di kemudian hari akan kelihatan, yang akan memantapkannya mengambil keputusan sendiri berdasarkan pemahaman fiqihnya juga tanpa harus kehilangan hormat kepada guru.   

Memimpin NU dan Melawan RUU Perkawinan Orde Baru Setelah Kiai Abdul Wahab Chasbullah wafat, Rais Aam NU berada di pundak KH Bisri Syansuri pada tahun 1972, era mulai menguatnya pemerintahan Orde Baru. 

Tantangan besar yang pertama adalah munculnya sebuah Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang secara keseluruhan berwatak begitu jauh dari ketentuan-ketentuan hukum agama, sehingga tidak ada alternatif lain kecuali menolaknya. Sangat menarik untuk diikuti bahwa proses perundingan dalam upaya menyetujui RUU tersebut agar menjadi Undang-Undang (UU) berlangsung sangat alot dan ketat.   Sebagian besar peserta yang terlibat dalam proses perundingan tersebut berasal dari NU yang berhadapan dengan unsur dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Hal ini menunjukkan, begitu besarnya pengaruh para ulama di dalam dan di luar PPP pada saat itu.   “Para jenderal yang saat itu memiliki nama dan wewenang yang cukup besar, seperti Soemitro, Daryatmo dan Soedomo harus berhadapan dengan Kiai Bisri yang terkenal tidak mengenal kompromi dan penganut penerapan Masa Perjuangan dan Perpolitikan KH. Bisri Syansuri fiqih secara ketat,” demikian tulis H. Abd. Aziz Masyhuri, dalam bukunya Al-Magfurlah KH. Bisri Syansuri, Cita-cita dan Pengabdiannya.   Kemudian, Kiai Bisri bersama kiai-kiai NU lain membuat RUU tandingan, di dalam buku KH Abdus Salam menjelaskan RUU itu dengan mengutip Andrée Feillard, dalam bukunya “Nu Vis-à-vis Negara: 

Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.    Isi RUU Alternatif rancangan para ulama yang dimotori KH Bisri Syansuri, yang meliputi pertama, Perkawinan bagi orang Muslim harus dilakukan secara keagamaan dan tidak secara sipil (pasal 2: NU berhasil memenangkan pendapatnya);    
Kedua, masa ‘iddah, saat istri mendapatkan nafkah setelah diceraikan harus diperpendek. Pemerintah mengusulkan satu tahun, sedangkan NU minta tiga bulan karena menuntut seorang dari Muslimat, suami berhak rujuk kembali kepada istri selama masa ‘iddah itu. Tidak ada perkecualian diberlakukan bagi wanita usia lanjut.   
Ketiga, pernikahan setelah kehamilan di luar nikah tidak diizinkan. NU cukup berhasil dalam arti definisi anak yang sah adalah yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan.   
Keempat, pertunangan dilarang karena “dapat mendorong ke arah perzinahan. NU berhasil, pasal 13 ini dihapus.    
Kelima, Anak angkat tidak memiliki hak yang sama dengan anak kandung. Dalam hal ini NU berhasil; pasal 42 mengatakan bahwa anak yang sah adalah yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan.    
Keenam, penghapusan sebuah pasal dari rancangan undang-undang yang diajukan yang menyatakan bahwa perbedaan agama bukan halangan bagi perkawinan. Pasal 11 ini dihilangkan dan tidak disinggung.    
Ketujuh, batas usia yang diperkenankan untuk menikah ditetapkan adalah 16 tahun, bukan 18 tahun bagi wanita 19 tahun bagi pria dan bukan 21 tahun. Pada pasal 7 ini, NU berhasil.   
Kedelapan, penghapusan pasal mengenai pembagian rata harta bersama antara wanita dan pria karena dalam Islam “hasil usaha masing-masing suami atau istri secara sendiri-sendiri menjadi milik masing-masing yang mengusahakannya”. Pada pasal ini, NU berhasil.    
Kesembilan, NU menolak larangan perkawinan antara dua orang yang memiliki hubungan sebagai anak angkat dan orang tua angkat atau anak-anak dari orang tua angkat. Pasal ini disempurnakan menjadi hubungan sebagai anak angkat tidak dilarang, tetapi disinggung pula soal hubungan persusuan.    
Kesepuluh, NU menolak larangan melangsungkan perkawinan lagi antara suami-istri yang telah bercerai. Dalam pasal 10 ini, NU berhasil.   

Perlawanan NU dalam RUU Perkawinan di awal Orde Baru tersebut tidak terlepas dari Kiai Bisri Syansuri ahli fiqih yang telah matang, bersama kiai-kiai NU lain. (Abdullah Alawi)   

 Kontak Kami Download © 2020 NU Online | Nahdlatul Ulama

Kiriman RN - GARDANU 3


HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF GRESIK 

Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik adalah sosok Wali Qutub yang luar biasa. Beliau khalwat kurang lebih 15 tahun. Haul beliau menjadi salah satu haul terbesar di Indonesia. Makamnya diziarahi para habaib sedunia. Menurut Guru Sekumpul, ada 3 orang auliya Allah yang nama dan maqomnya sama yaitu, Habib Abu Bakar bin Abdullah Alaydrus, Habib Abu Bakar bin Abdullah aL-Atthos, Habib Abu Bakar bin Muhammad Asseghaf Gresik.

Ada cerita sangat menakjubkan tentang beliau. Saat semua penduduk Kota Gresik sepi mensholati jenazah beliau, ada seseorang bapak membeli daging kambing di Pasar Gresik. Kemudian bapak itu tanya kepada penjual daging,”Pak, mengapa pasar ini sepi? Dan engkau terlihat tergesa-gesa.”

“Itu Pak, Habib Abu Bakar wafat, sekarang waktunya mensholatkan beliau, ayo ke sana,” jawab penjual daging itu.

Si bapak pembeli daging langsung berangkat ke masjid jami’ untuk ikut serta mensholati beliau. Sambil membawa “bungkusan daging” saat akan diangkat jenazah beliau, terlihat sama sekali tidak terangkat dan para jamaah ratusan ribu heran.

Alhamdulillah putra dan dhurriyah Habib Abu Bakar ingat bahwa Habib senang dibacakan Sholawat Nabi. Ribuan pelayat bersama membaca sholawat. Subhanallah!!!! Jenazah beliau naik ke atas dan berjalan sendiri tanpa ada yang mengangkat. Yang menakjubkan lagi, bapak yang ikut mensholatkan beliau itu pulang dan daging yang dibeli di pasar dimasak tidak bisa matang dan digorengpun tak bisa.

Si Bapak ini kemudian menangis menceritakan kejadian daging itu.

Para ulama santri Habib Abu Bakar bercerita bahwa: “Habib Abu Bakar pernah dawuh: “Barang siapa yang kelak ikut menyolati jenazahku, maka aku doakan dia tidak terkena panasnya api neraka dan api dunia.”

Si bapak menangis tersedu. Tak menyangka daging yang ikut jadi saksi mensholati habib Abu Bakar tidak bisa terkena api dunia.

Semoga mendapatkan berkah dari beliau dan para wali2 Allah… Al-Fatihah…

Kiriman Gus Asep Wahyu - ALIANSI SANTRI NUSANTARA


Kisah Gaib Perang 10 November, Kiai Abbas Ledakkan Butiran Tasbih.

Kalangan santri sempat disebut kaum bersarung. 

Maka dahulu kaum santri lekat dengan sarung dan bakiak. Paket itu tak hanya untuk aktivitas sehari-hari para santri. Pada jaman penjajahan Belanda, bakiak juga dipakai santri untuk berperang.

Hal ini dilakukan oleh komandan perang 10 November 1945 Kiai Abbas Abdul Jamil dari Pesantren Buntet Cirebon. Dalam pertempuran Surabaya yang tanggalnya diabadikan sebagai Hari Pahlawan itu, Kiai Abbas menggunakan bakiak menghadang hujan peluru Belanda.

“Bakiak tersebut yang digunakan oleh Kiai Abbas untuk memimpin peperangan 10 November,” ujar penulis buku Kisah-kisah dari Buntet Pesantren, Munib Rowandi, Kamis (10/11/2016).

Selain menggunakan bakiak, lanjutnya, ternyata Kiai Abbas juga menggunakan alu ( alat penumbuk padi ) dan tasbih untuk melawan para penjajah dalam peristiwa besar tersebut.

Munib mendapatkan data peristiwa 10 November tersebut dari penuturan pengawal Kiai Abbas yang bernama Abdul Wahid. Seperti yang dituliskan oleh Abdul Wahid, Kiai Abbas memimpin perang 10 November dengan menggunakan bakiak yang dipegangnya sejak dari Cirebon.

Dalam kisah yang didapatkan dari Abdul Wachid, diketahui Kiai Abbas berangkat dari Cirebon beserta kiai dan santri dengan menggunakan kereta api. Mereka singgah terlebih dahulu di kediaman Kiai Bisri di Rembang Jawa Tengah.

Di tempat itulah, para kiai dari berbagai daerah yang berjumlah sekitar 15 orang melakukan musyawarah dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju Surabaya dengan menggunakan mobil.

Meski semangat arek-arek Suroboyo untuk menyerang tentara sekutu saat itu sudah kuat, namun mereka ditahan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim meminta masyarakat untuk terlebih dahulu menunggu kedatangan Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon.

“Kiai Abbas akhirnya ditunjuk menjadi komandan perang 10 November saat itu,” kata Munib.

Saat peperangan berkecamuk, Kiai Abbas berdoa khusyuk. Atas seizin Allah, kata Munib, ribuan alu milik masyarakat berterbangan dan menghantam pasukan penjajah. Butiran-butiran tasbih dilemparkan oleh Kiai Abbas dan mampu menghancurkan sejumlah pesawat terbang yang menjadi andalan utama tentara sekutu.

“Kiai Cholil Bisri pernah bercerita, bahwa Kiai Abbas mengibaskan sorbannya dan mengakibatkan pesawat terbang milik musuh hancur,” kata Munib.

Kiai Abbas wafat pada 1946.

والله أعلم 
اللّهم صلّ و سلّم و بارك علي سيّدنا محمّد النّبيّ الامّيّ وعل اله و صحبه و سلّم

Diki oi fama

Kiriman RN - GARDANU 3


SILSILAH SARIDIN 
(RADEN SYARIFUDDIN) 
SYEKH JANGKUNG SAMPAI PADA KANJENG NABI MUHAMMAD ﷺ

SILSILAH SYEKH JANGKUNG

Hampir seluruh orang Pati mengenal sosok Syekh Jangkung. Nama beliau adalah Sayyid Raden Syarifuddin. (Gelar “Sayyid” dipakai oleh Saridin karena beliau merupakan keturunan dari Sayyid Hasan, (untuk gelar Syarif dipakai oleh keturunan Syarif Husain bin Ali Karromallohu wajhah)/bin Sayyidah Fathimah Az-Zahro’ putri Rasulullahﷺ). Gelar “Raden” dipakai oleh Saridin karena beliau merupakan keluarga bangsawan dari garis ibu yaitu Sujinah Binti Utsman Haji (Sunan Ngudung) saudari Sunan Kudus

Untuk memudahkan dalam berucap kata Syarifuddin dalam logat jawa memang agak kesulitan, sehingga kata Syarifuddin berubah menjadi “Saridin”. Gelar “Syekh” bagi Saridin, beliau mendapatkannya dari negara Ngerum (Andalusia, saat itu sebagai pusat perawi Hadits dan pusat kerajaan Islam terbesar didunia). Adapun gelar “Jangkung” beliau dapat dari gurunya dan juga kakeknya yaitu Raden Syahid Sunan Kalijaga. Karena Saridin ini selalu dijangkung oleh gurunya. Makna kata di jankung menurut bahasa Indonesia dilindungi, diayomi, dipelihara, dididik, dan selalu dalam naungannya.

Berikut Silsilah nasab Syaikh Jangkung Raden Syarifuddin / Saridin dari garis ibu sampai pada kanjeng Nabi Muhammad ﷺ:  

1.    Nabi Muhammad ﷺ (di makamkan di Madinah Al-Munawwaroh) Sayyidatu
2.    Sayyidah FathimahAz-Zahro’ (dimakamkan di Madinah Al-Munawwaroh)
3.         Sayyid Imam Husain (di makamkan di Karbala Iraq)
4.         Sayyid Ali Zainal Abidin (di makamkan di Madinah Al-Munawwaroh)
5.         Sayyid Muhammad Al-Baqir (di makamkan di Madinah Al-Munawwaroh) 
6.         Sayyid Ja’far Shodiq (di makamkan di Madinah Al-Munawwaroh)
7.        Sayyid Ali Al-Uradhi (di makamkan di Madinah Al-Munawwaroh)
8.         Sayyid Muhammad An-Naqib (di makamkan di Bashrah Iraq)
9.          Sayyid Isa An-Naqib (di makamkan di Bashrah Iraq)
10. Sayyid Ahmad Al-Muhajir (di makamkan di Al-Husayysah, Hadramaut, Yaman)
11.  Sayyid Abdullah /Ubaidillah (di makamkan di Hadramaut, Yaman)
12.  Sayyid Alwi Syakar (di makamkan di Sahal, Yaman)
13.  Sayyid Muhammad (di makamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman)
14.  Sayyid Alwi (di makamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman)
15.  Sayyid Ali Khali’ Qasam (di makamkan di Tarim,Hadramaut, Yaman)
16. Sayyid Muhammad Shabib Mirbath (di makamkan di Zhifar, Hadramaut, Yaman)
17.    Sayyid Alwi ’Ammil Faqih (di makamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman)
18. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan (Gelar Raja Champa Asia Tenggara) (di makamkan di Naserabad, Hindia) lahir di kota Qasam, Hadhramaut, tahun 574 H. Ia dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena dia hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat untuk berdakwah sebagaimana kakeknya, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena ia hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah. Menurut Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini (Ulama' asli Tarim, Hadramaut, Yaman), keluarga Azmatkhan yang merupakan leluhur Walisongo dinusantara adalah dari Qabilah Ba'Alawi atau Alawiyyin asal Hadramaut, Yaman, dari gelombang pertama yang masuk di nusantara dalam rangka penyebaran Islam.
19. Sayyid Abdullah (Naserabad Pakistan Hindia) ada yang menulis Abdullah Khan, ini adalah kesalahan, karena mara Khan bukanlah keturunan Sayyid, melainkan dari nama belakang penguasa Mongol. Sejarah mencatat meratanya serbuan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama penguasa Mongol yang terkenal adalah Khubailai Khan. Setelah Mongol berkuasa, banyak raja-raja taklukannya diberi nama tambahan yaitu memakai marga Khan. Sayyid Abdullah, kemudian diambil menantu oleh bangsa Naserabat dan memberinya gelar kehormatan ”Khan” agar dianggap sebagai bangsawan sebagaimana keluarga ‘Mongol’ Khan yang lain. Seperti halnya Sayyid Romatulloh (Sunan Ampel) diberi gelar “Raden” karena beliau diambil menantu oleh bangsawan Majapahit, dan sebutannya menjadi “Raden Rahmat”.   
20.  Sayyid Ahmad Syah Jamaluddin (Naserabad Pakistan Hindia)
21.  Sayyid Husain Jamaluddin Akbar (Bugis) Banyak orang menyebutnya Syekh Jumadil Kubro, dan ada banyak makam yang dinisbatkan pada Syekh Jumadil Kubro. Maka boleh jadi “Syekh Jumadil Kubro” itu adalah tahrif(salah ucap) dari beberapa nama. Adapun yang paling sahih adalah makam yang di Bugis, karena disekitar makam itu terdapat banyak keluarga bangsawan yang bernasab pada beliau.  
22.     Sayyid Ibrahim Samarkhan (Asmoro). Dimakamkan di Tuban
23.  Sayyid Fadhal Ali Al-Murtadha (Raden Santri / Raja Pandita). dimakamkan di Gresik 
23.     Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung / Ayah Sunan Kudus) dimakamkan di Kudus
24.  Sayyid Amir Haji / Ja'far Shodiq (Sunan Kudus) dimakamkan di Kudus. memiliki saudari bernama Sujinah (Ibu Syekh Jangkung) menikah dengan Sayyid Umar Sa'id (Sunan Muria) bin Raden Sayyid (Sunan Kali Jaga)
25.     Sayyid Raden Syarifuddin/Saridin (Syekh Jangkung /Syekh Ongket)

Sedangkan silsilah Saridin / Sayyid Syarifuddin / Syekh Jankung dari garis laki-laki (ayah) adalah sebagai berikut :

1.    Rasulullah Muhammad saw
2.  Sayyidah Fathimah Az-Zahro' / Suami Sayyid Imam Ali bin Abi Tholib Karomallohu wajhah 
3.    Sayyid Husain
4.    Sayyid Zainal Abidin
5.    Sayyid Muhammad Al-Baqi'
6.    Sayyid Ja'far Shodiq
7.    Sayyid Ali Al-Uraidhi
8.    Sayyid Muhammad
9.    Sayyid Isa
10.  Sayyid Ahmad Muhajir
11.  Sayyid Abdullah / Ubaidillah
12.  Sayyid Alwi
13.  Sayyid Muhammad
14.  Sayyid Ali Khali' Qasam
15.  Sayyid Muhammad Sahib Mirbath
16.  Sayyid Alwi Ammil Faqih 
17.  Sayyid Abdul Malik Azmatkhan 
18.  Sayyid Abdullah
19.  Syekh Ahmad Jalaluddin
20.  Syekh Ali Nuruddin 
21.  Syekh Maulana Manshur suami raden Ayu Tejo
22.  Raden Aryo Wilotikto / Raden Ahmad Sahuri, Tumenggung Tuban.
23.  Raden Syahid / Sunan Kali Jaga
24.  Raden Umar Sa'id / Sunan Muria
25.  Raden Syarifuddin / Saridin /Syekh Jangkung     

Saridin Syekh Jangkung ini memiliki putra yaitu:
1.   Dari Sarini berputra Momok Landoh (Kec. Kayen Kab. Pati Jawa Tengah). 
2.  Dari Siti Ruqoyah (Rugiyah) / Nyai Pandan Arum berputra Momok Hasan Bashori /Raden Tirta Kusuma (Cirebon- Jawa Barat)

3.  Dari  Momok Hasan Haji (Palembang - Sumatera)

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه وسلم

Wallahu a'lam

Kiriman Mas Nur - SARKUB INDONESIA BAROKAH


Kesaksian Para Auliya Terhadap Kewalian Abah Guru Sekumpul

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan, seorang ulama dari kesultanan banjar, penulis kitab sabilal muhtadin suatu Ketika sedang berjalan di tengah malam bersama Salah satu putra Beliau maulana hasanudin di daerah martapura. Beliau berhenti disuatu daerah Yang dahulu dikenal dengan nama sungai kacang.

Setelah sampai disitu, "Syekh Muhammad Arsyad" memandang kearah langit seperti menanti isyarat atau petunjuk. Lalu Beliau kembali memandang kelangit sambil mengangkat tangan Dan berkata:

"Nanti disini akan muncul salah satu dzuriyatku yang ilmu, derajat Dan kemulian nya melebihi dari Pada Aku."

Tempat yang bernama sungai kacang dahulu, sekarang tepat berada di mushalla Ar-raudhah, sekumpul martapura. Jadi 200tahun lalu *syekh Muhammad arsyad Al banjari* sudah mengetahui bahwa Salah satu dzriyat Beliau yang bernama Qusyairi 

Sewaktu kecilnya Dan Muhammad zaini, nama besarnya akan berpangkat *Al Alimul Allamah Al arif billah Al Qutub akwan maulana syekh kh. Muhammad zaini bin abdul ghani*.

*Al Habib Muhammad bin husein ba'adud* berkata: "siapa yang hendak melihat Rasulullah Saw,Maka pandanglah guru zaini."

*Al habib Ahmad Al habsy (banjarmasin)* berkata: "bila ingin melihat sunnahnya Rasulullah Saw dengan jelas,Maka lihatlah perilaku abah guru sekumpul,karena semua Sunnah Rasulullah Saw yang Beliau ketahui slalu dikerjakanya."

Al Habib Ahmad Baraqbah Bangil" Sewaktu bertemu dengan abah guru sekumpul berkata: "ente min auliya Allah." Diucapkanya sampai 3x sambil menguncang guncang bahu abah guru.

Al Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf dari semarang Ketika bersalaman dengan abah guru sekumpul Sewaktu masih muda, berkata kepada para ulama yang hadir: "cium tangan zaini,ini Quthub cilik,ini Quthub cilik."

Kiriman Gus Asep Wahyu - ALIANSI SANTRI NUSANTARA


KISAH AYAHANDA DAN BUNDA HABIB UMAR BIN HAFIDZ🌷🌼🌻

Date: 5 Jun 2020
Author: Habib Ahmad 

Tak ada bosannya mendengar cerita orang orang mulia,
Sayyidil Habib Umar Bin Hafidz bercerita tentang ayahnya Habib Muhammad Bin Salim Bin Hafidz dan ibunya, Hubabah Zahra Al Haddar (dan juga beberapa kisah tambahan dari Habib Ali Al Jufri tentang kedua orang mulia ini) :
Beliau, Hubabah Zahra benar-benar telah menyerap pendidikan sejati Hadramaut dan model seseorang yang mengikuti jalan / tariqat ba alwi. beliau memiliki tanda kesempurnaan sifat dan akhlak manusia dan menunjukkan tauladan kepada orang-orang bagaimana untuk memenuhi peran mereka dalam kehidupan.

Dimasa kecilnya Hababah Zahra banyak mengikuti
pendidikan dari orang shaleh dan sholehah di kota Dammun (di pinggiran Tarim). Sebagai seorang anak ia belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar agama. Dan segera setelah itu beliau melanjutkan untuk mengajar pada sejumlah besar perempuan di kota asalnya, beberapa di antara muridnya masih hidup hingga hari ini. Selain itu beliau banyak membaca Alquran dan adzkar dan melakukan ibadah yang berlimpah.

Pada saat yang sama beliau tetap melayani dan membantu keluarganya. Ibunya selalu memberi tugas yang tepat untuk seorang gadis diusianya, seperti menyampaikan pesan kepada orang-orang. Beliau juga belajar bagaimana menjalankan urusan rumah dengan cara yang terbaik dalam semangat selalu merasa puas dengan apa pun yang tersedia dan menerima apa adanya.
Di usia dini beliau sudah dihormati umat Islam pada umumnya, orang tua dan orang-orang shaleh khususnya. Ia menghormati kerabat dan orang yang lebih tua dari dirinya. Bahkan jika ada orang yang bersalah, dia akan memperlakukan mereka dengan baik.

Hubabah memiliki sifat rendah hati dan pemalu, Ketika dia mendekati usia pernikahan dia hanya akan mengizinkan orang tua dan mahramnya yang boleh melihat wajah dan rambutnya. Bahkan tetangga perempuannya yang berharap untuk melihat sehelai rambut di kepalanya mereka tidak akan mampu melakukannya. Ini adalah tradisi masyarakat tarim dan hadramaut umumnya.
Semua tingkah laku terpuji ada dalam dirinya, itulah sebabnya banyak orang baik dan sholeh yang ingin menikahinya, tapi Allah menghendaki bahwa dia berjodoh dan menikah dengan ayahku, Habib Muhammad bin Salim Bin Hafidz, mereka menikah pada tahun 1357 hijriah (1938m) pada waktu itu usia hubabah 18thn, dan beliau pindah ke rumah yang di bangun ayahku di tarim, rumah yang pada awalnya kecil dan hanya memiliki satu ruangan bersama dapur dan kamar mandi, Mereka hampir tidak memiliki peralatan atau perabotan yang biasanya dimiliki pasangan yang baru menikah. Habib Muhammad hanya memiliki tiga piring, satu panci dan satu sendok, dengan tepi yang penyot dan rusak.

Habib Muhammad terus-menerus terlibat dalam medan dakwah, mengajar dan menghadiri pertemuan (majlis ilmu> setiap hari dan malamnya tidak kurang dari 16 majlis yang dihadirinya) dan hubabah Zahra mengurus rumah dan melayani tamu. (Kesabaran dan kemuliaan akhlaknya bisa terlihat, jika pada siang hari ada murid murid Habib Muhammad, datang belajar di rumah mereka, karena hanya ada satu ruangan, hubabah akan naik menunggu diatas rumah mereka (tempat jemur pakaian) rela tersengat sinar matahari panas bumi hadramaut, demi mendukung amalan suami dan menjaga kehormatan dirinya untuk tidak bertemu dan terlihat oleh tamu tamu suaminya).

Hubabah Zahra sangat menghormati keluarga suaminya baik orang tua dan saudara-saudaranya. Ayah Habib Muhammad, Habib Salim, pernah datang dari Mishtah untuk tinggal bersama mereka. Habib Salim sangat terkesan dengan hubabah setelah melihat hal hal kecil yang dilakukannya, seperti bagaimana bersih dan rapinya dia mencuci dan menyetrika pakaian mertuanya.
Selain mengurus rumah tangga, hubabah selalu menghadiri majlis ilmu.

Habib Muhammad menyusun kitab al-Tadzkirah aI-Hadramiyyah, kitab yang mempelajari semua ilmu agama dengan segala kewajiban yang harus diamalkan kaum perempuan, setiap habib selesai menulis pasal pasal atau bab pada kitab itu beliau selalu tunjukkan pada hubabah, dan kemudian hubabah akan membacakan di dalam majlas kaum hawa atau didepan wanita sholehah seperti putri dari Imam Al Habib Abu Bakar Al Siri, dll.

Setelah setahun menikah mereka dikaruniai anak (habib Ali Masyhur), terlahir thn 1358 (1939), dan setelah itu beliau terus dikaruniai anak (5 putra 3 putri), mengandung, melahirkan dan mengurus banyak anak tidak menghalangi beliau untuk menghadiri majlis ilmu, berdzikir dan sholat malam serta puasa sunnah, contohnya, seperti waktu masuk hari asyura, ada saran untuk membaca surat al-Ikhlas 1,000 x, dia serahkan subhah (tasbih) kepada anak perempuan kecilnya untuk menghitung dan beliau akan membaca sambil menimba air dari sumur, mencuci pakaian dan membakar roti, itulah cara beliau mengisi hari hari dalam hidupnya..

Ketenangan kehidupan rumah tangga yang bahagia di jalan Allah ini setelah lebih dari 30 thn semakin di sayang Allah, Allah mengambil Habib Muhammad secara Syahid ditangan penguasa zholim, penguasa kafir komunis dukungan sovyet, Yaman selatan, beliau di ancam berkali kali untuk menghentikan dakwahnya dijalan Allah, tapi dengan ringan beliau berkata:

“Apa yang akan aku katakan kepada Allah di akhirat kelak ketika Dia bertanya padaku?”
Beliau sempat melakukan haji untuk terakhir kalinya, dan temannya, Sayyid Abdullah bin Hasan al-Jufri, menyarankan dia untuk tetap berada di Hijaz sampai situasi membaik di Hadramaut.
Habib Muhammad menjawab dengan mengatakan:
“Apakah Anda ingin aku untuk meninggalkan pelayanan terhadap agama ini? akan jadi apa masyarakat Tarim jika aku tidak kembali? Para sahabat Nabi ﷺ selalu pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk bisa di karuniai jalan syahid fi sabilillah”.
Beliau bersikeras untuk tetap kembali ke lembah yang diberkati di Hadramaut.

Dan Ketika Habib Muhammad akhirnya diculik, tinggallah Hababah Zahra menjalani cobaan itu yang bahkan pegununganpun tidak akan mampu menanggung. Orang Orang tidak berani mengunjunginya di rumah mereka yang selalu diawasi pasukan mata mata pemerintah, jadi hababah menghabiskan hari dan malam hanya bersama Tuhan dan Rasulnya saja. Anak-anaknya masih kecil kecil (Habib Umar baru berusia delapan atau sembilan thn pada waktu itu), tapi hababah berhasil membesarkan mereka sendirian dan dengan baik.

Tahun-tahun berlalu dan tidak ada yang tahu apakah suaminya hidup atau mati. Dia akan mendengar rumor bahwa suaminya dibuang atau berada di tempat tertentu dan anaknya yang tertua Habib Ali Masyhur akan pergi diam-diam di malam hari untuk mencarinya. Bayangkan saja hal-hal ini! Ini bukan hanya cerita-ini sebuah peristiwa nyata yang terjadi! Bayangkan saja bahwa suami Anda telah diculik dan tidak ada yang tahu apakah dia masih hidup atau mati. Tidak ada yang tahu apa dan bagaimana keadaannya. Tidak ada yang datang membantu untuk menyediakan makanan dan minuman pada mulut mulut kecil itu. Tidak ada yang berani mengunjungi mereka. Hubabah terpencil di rumahnya sendiri selama bertahun-tahun, tapi dia tetap sabar dan puas dengan keputusan Tuhan-nya. Beliau tidak menurun kualitas ibadahnya dengan cara apa pun.

 Kesabaran dan ketekunan nya melahirkan banyak buah-buahan yang kita sekarang panen hasilnya. Habib Umar muda meninggalkan Tarim dan hati beliau tetap melekat pada dirinya sampai akhirnya mereka bertemu di Hijaz beberapa tahun kemudian.
(Habib Ali Al Jufri menambahkan bahwa beberapa waktu lalu ada orang yang datang menemuinya, orang itu meminta habib ali untuk menghubungi Habib Umar untuk meminta maaf atas perlakuan mereka terhadap keluarga itu pada waktu lalu, Habib Umar dengan bijak mengatakan bahwa mereka sudah memaafkan orang orang tsb sejak lama).

Habib Umar melanjutkan, itulah bagaimana ibundanya melewati sisa hidupnya, memuja Allah dan Rasul-Nya ﷺ , dan mengikuti jalan pendahulu yang saleh dan agama mereka di atas segalanya. Dan Kami baru saja (setelah hubabah Zahra meninggal) membaca nasihat / wasiat yang di tulis beliau bahwa Di dalamnya ia menasihati kami untuk berpegang teguh pada jalan pendahulu kami, untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang dan untuk mengajak orang-orang dekat ke jalan Allah.

Kepergiannya
Hababah Zahra meninggal di menit menit terakhir hari Senin 21 Sya’ban 1436. Ada perasaan ketenangan dan kedamaian yang menyelimuti janazah dan pada hari-hari berikutnya. Ini merupakan indikasi tingginya peringkat beliau dan merupakan tanda Ridha dan penerimaan Allah. Janazah beliau terasa seperti janazah dari salah satu imam besar dari masa lalu.

Salah satu kerabat kami melihatnya dalam mimpi setelah kematiannya (sebelum dikebumikan). melihatnya sedang berada dengan wanita lain yang tidak dikenal. Kami berpikir dan berkata kepadanya (yang mengalami mimpi) : “Satu-satunya orang yang akan bersama dengan hababah Zahra adalah Fatimah al-Zahra”.

Jauh hari sebelum dia meninggal, beliau sudah menunjukkan sebuah tempat di pemakaman Zanbal, dimana beliau ingin dikuburkan. Dari waktu ke waktu ia akan menanyakan apakah ada orang lain yang telah dimakamkan di tempat itu, berharap bahwa tempat belum diambil. Kami pikir itu bukan tempat yang cocok baginya untuk dimakamkan karena beberapa anak kecil telah dimakamkan di daerah yang sama dan itu tidak tampak seperti ada cukup ruang untuk orang dewasa untuk dimakamkan.

Setelah dia meninggal, Habib Ali Masyhur pergi untuk memeriksa tempat itu dan Penggali Kubur mengatakan itu adalah tempat yang baik baginya untuk dimakamkan. Dan Ketika ia mulai menggali dan hampir selesai, didasar sana ia menemukan sebuah nisan tua dengan nama ‘Fatimah binti Syekh Ibrahim bin Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf', yang telah meninggal sekitar 600 tahun sebelumnya. Hababah Zahra sepatutnya dimakamkan di makam yang sama, di atas wanita mulia, cucu dari wali besar SyekhAbd al-Rahman al-Saqqaf.

Semoga Allah mengizinkan keturunannya untuk bersatu dengan nenek moyang mereka dan memungkinkan mereka yang mencintai orang saleh untuk pula bersatu dengan mereka.
ﺍﻟﻠّﻬﻢّ ﺻﻞِّ ﻋﻠﻰ ﺳﻴّﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤّﺪٍ ﻭﺁﻟﻪ
ﻭﺻﺤْﺒﻪ ﻭﺳﻠِّﻢ

Dapatkan Doa,Zikir,Tasbih serta Mutiara Kata di instagram kami : https://www.instagram.com/pondokhabib/

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

✍️Link Download :
Andichavlins.blogspot.com
Andichavlins.wordpress.com
🕋🌴
🔖🕌🄲🄿🄳🌐
           ●───✸✸☘🌸☘✸✸───●

BERKAH NAHDLIYYIN


Manaqib 8
Terjemahan ringkas Kitab “Nurul Burhani”

PENGEMBARAN SYAIKH ABDUL QODIR AL-JILANI radhiyallohu ‘anhu,

وَلَبِسَ مِنْ يَدِ اْلقَاضِىْ أَبِىْ سَعِيْدِ الْمُبَارَكِ الْخِرْقَةَ الشَّرِيْفَةَ الصُّوْفِيَّةَ ۞ وَتَأَدَبَّ بِأَدَابِهِ اْلوَفِيَّةِ ۞ وَلَمْ يَزَلْ مَلْحُوْظًا بِالْعِنَايَةِ الرَّبَّانِيَّةِ عَارِجًا فِى مَعَارِجِ الْكَمَالَاتِ بِهِمَّتِهِ اْلأَبِيَّةِ ۞ آخِذًا نَفْسَهُ بِالْجِدِّ مُشَمِّرًا عَنْ سَاعِدِ اْلإِجْتِهَادِ نَابِذًا لِـمَأْلُوْفِ اْلإِسْعَافِ وَاْلإِسْعَادِ ۞ حَتّٰى أَنَّهُ مَكَثَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ سَنَةً سآئِرًا فِى صَحْرآءِ الْعِرَاقِ وَخَرَايَاتِهِ لَا يَعْرِفُ النَّاسَ وَلَا يَعْرِفُوْنَهُ ۞ فَيَعْدِلُوْنَهُ عَنْ أَمْرِهِ وَيَصْرِفُوْنَهُ ۞ وَقَاسٰى فِىْ بِدَايَةِ أَمْرِهِ اْلأَخْطَارُ ۞ فَمَا تَرَكَ هَوْلًا إِلَّارَكِبَهُ وَقَفَّرَ مِنْهُ اْلقِفَارُ۞

Kemudian Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani radhiyallohu ‘anhu, meneruskan bai’at toriqohnya kepada Syaikh Qodli Abi Sa’id Al-Mubarok hingga mendapat ijin menjadi Syaikh mursyid yang adabiyahnya meniru Syaikh mursyidnya yang sudah sempurnya dan tidak henti-hentinya terpelihara dari inayah Allah, sehingga derajat kewaliannya terus naik ketingkat kesempurnaan, 

Karena cita-citanya yang luhur beliau dapat mengalahkan sifat-sifat yang tercela dan nafsu syaithoniyah yang menyesatkan, juga meniggalkan apa yang menjadi kesenangan nafsu dan hal-hal yang mubah (boleh), juga meningalkan keramaian dunia, pergi mengembara ke hutan di negeri Irak selama 25 tahun sehingga tidak mengenal orang dan tidak dikenal orang, bahkan banyak orang yang mencemoohnya dan tidak memperdulikan, karena keluarga yang menjadi tanggung jawabnya seakan-akan diabaikan. 

Pada permulaan beliau melakukan pengembaraan memang dirasakan banyak menghadapi tantangan serta kehawatiran-kehawatiran, tetapi semua hambatan itu dapat dihadapi dengan tabah dan tetap melanjutkan pengembaraan kehutan belantara.

وَكَانَ لِبَاسُه۫ جُبَّةَ صُوْفٍ ۞ وَعَلىٰ رَأْسِهِ خُرَيْقَةٌ يَمْشِى حَافِيًا فِى الشَّوْكِ وَاْلوَعْرِ لِعَدَمِ وِجْدَانِهِ نَعْلًا يَمْشِيْ فِيْهَا ۞ وَيَقْتَاتُ ثَمَرَ اْلأَشْجَارِ وَقُمَامَةَ اْلبَقْلِ التُّرْمٰى ۞ وَوَرَقَ الْحَشِيْشِ مِنْ شَاطِئِى النَّهْرِ ۞ وَلَايَنَامُ غَالِبًا وَلَايَشْرَبُ الْمَاءَ ۞

Pakaian yang dipakai jubah dari bulu, kepalanya ditutup sobekan kain, berjalan tanpa sandal, melalui tempat-tempat berduri di tanah-tanah terjal, yang demikian itu karena beliau tidak menemukan sandal, makanan nya buah buahan yang masih dipohon, sayur yang sudah dibuang, daun-daun rerumputan yang berada di tepi-tepi sungai, bahkan lebih banyak tidur dan tidak minum.

وَبَقِيَ مُدَّةً لَمْ يَأْكُلْ فِيْهَا طَعَامًا ۞ فَلَقِيَه۫ إِنْسَانٌ فَأَعْطَاهُ صُرَّةَ دَرَاهِمَ إِكْرَامًا ۞ فَأَخَذَ بِبَعْضِهَا خُبْزًا سَمِيْدًا وَخَبِيْصًا ۞ وَجَلَسَ لِيَأْكُلَ وَإِذًا بِرُقْعَةٍ مَكْتُوْبٍ فِيْهَا ۞ إِنَّمَا جُعِلَتِ الشَّهَوَاتُ لِضُعَفآءِ عِبَادِيْ لِيَسْتَعِيْنُوْا بِهَا عَلَى الطَّاعَاتِ ۞ وَأَمَّا اْلأَقْوِيآءُ فَمَا لَهُمُ الشَّهَوَاتُ ۞ فَتَرَكَ الْأَكْلَ وَأَخَذَ الْمِنْدِيْلَ وَتَرَكَ مَا كَانَ فِيْهِ ۞ وَتَوَجَّهَ فِى اْلقِبْلَةِ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَانْصَرَفَ ۞ وَفَهِمَ أَنَّهُ مَحْفُوْظٌ وَمُعْتَنًى بِهِ وَعَرَفَ ۞

Pernah berhari-hari beliau tidak makan apapun, tiba-tiba datang seseorang yang kemudian memberinya sebuah kantong yang berisi penuh dengan uang dirham sebagai penghargaan kepada beliau. 

Kemudian beliau mengambilnya sebagian untuk membeli tepung, jenang dari kurma dan samin lalu duduklah Syaikh untuk menikmati makanan tersebut. Tiba-tiba meliau melihat sebuah kertas bertuliskan : 

“Syahwat itu dijadikan untuk hamba-hamba-Ku yang lemah, sebagai perantara untuk melaksanakan ta’at kepada Allah,”

“Adapun hamba-hamba-Ku yang kuat, mereka tidak mempunyai kesenangan syahwat apapun”, 

Seketika itu beliau langsung meninggalkan makan, mengambil sapu tangan untuk membungkusnya dan ditinggalkannya lalu menghadap kiblat shalat dua rakaat, dan kemudian meninggalkan tempat itu. atas kejadian ini beliau sadar, bahwa dirinya dijaga oleh Allah dan selalu dalam pertolongan-Nya.

اَللّٰهُمَّ انْشُرْ نَفَحَاتِ الرِّضْوَانِ عَلَيْهِ ۞
۞ وَأَمِدَّنَا بِالْأَسْرَارِ الَّتِىْ أَوْدَعْتَهَا لَدَيْهِ

ALLOHUMMANSYUR NAFAĤATIRRIDHWANI ALAIH
WA AMIDDANA BIL ASRORIL LADZI AUDA’TAHA LADAIH

Ya Allah, hamparkanlah aroma harum keridhoan-Mu kepada kanjeng Syaikh,

Dan curahkanlah keberkahan kepada kami berkat asror kewalian 
yang Engkau titipkan kepada kanjeng Syaikh.

Bersambung…

Kiriman Gus Abdul Wakhid - BERKAH NAHDLIYYIN


PERJALANAN PANJANG SANG ULAMA' PEJUANG : KH. GHUFRON BIN ACHID SAMPANGAN 

Sekilas biografi 
shohibul fadlilah simbah KH Ghufron bin Achid SAMPANGAN,salah satu di antara Tokoh Ulama' di kota pekalongan yang sangat kharismatik.

Sosoknya sangat sederhana dan perilakunya yg selalu tawadlu' sangat menggambarkan kedalaman ilmunya.
Beliau ber amar ma'ruf nahi mungkar selalu dengan cara Akhlaqul karimah seperti yg di ajarkan Rasulullah SAW, Beliau selalu tampil di saat layar kehidupan masyarakat bergoyang. Yang slalu menegakkan kebenaran terhadap siapapun yg menyimpang.
Kepulangannya ke alam baqo' adalah banjir air mata dari lautan manusia yg datang dari segala penjuru.

Beliau Tokoh yg merakyat, namun sulit bagi kita untuk tidak mengatakan bahwa beliau adalah ''Orang Besar'' Marilah kita simak kehebatan kisah hidupnya.
Beliau Almarhum, Al maghfurlah simbah KH Ghufron Achid menurut catatan dilahirkan pada hari kamis pahing tanggal 15 Syawal 1349 H/tanggal 5 Maret 1931 M dari pasangan Bapak Achid bin Ustman dan Ibu Arifah binti KH Ahmad Asy'ary di Kauman Pekalongan.

Beliau wafat/dipanggil oleh Allah SWT pada hari Rabu Wage tanggal 7 Pebruari 2001 M/13 Dzul Qo’dah 1421 H, berarti beliau pada waktu wafatnya berusia 69 tahun 11 bulan 2 hari menurut hitungan tahun Syamsiyah. Atau 73 tahun lebih 28 hari menurut hitungan tahun Qomariyah.
Beliau dinikahkan dengan 'Aisyah putri dari Al Markhum, Al Maghfurlah simbah KH Mudzakir bin KH Fadholi, Adik kandung dari KH Ibnu Chadjar Mudzakir.

Dari perkawinannya beliau dianugerahi 11 Putera (anak), 4 orang laki-laki dan 7 orang perempuan.
Pada masa mudanya, beliau menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu,
bukan untuk berfoya – foya seperti layaknya anak muda yang lain.
Dari keterangan keluarga, pada waktu kecil beliau pernah mengaji pada Mbah Kiai Baidlowi Kauman, selanjutnya beliau menuntut ilmu pada para Ulama di berbagai Pondok Pesantren antara lain:

1. Simbah KH Ma’shum Ponpes Al Hidayah Lasem selama 6 tahun
2. Mbah KH Masduqi Ponpes Al Ishlah Lasem
3. Mbah KH Baidlowi Lasem
4. Mbah KH Maftukhin Lasem
5. Mbah KH Cholil Lasem
6. Mbah KH Fatkhur Rohman Lasem
7. Mbah KH Manshur Lasem
8. Mbah KH Muhammadun Tayu
9. Mbah KH Arwani Kudus
10. Mbah KH Muhammad Hambali Sumardi
11. Mbah KH Demyathi at Tarmasiy
12. Mbah KH Ahmad Asy'ary Poncol salatiga.

-(Beliau Orang yang sabar tapi penuh semangat)-
Bapak beliau yaitu Bapak Achid Almarhum meninggal karena kekejaman Belanda, sehingga pada waktu kecil beliau dan Saudara–Saudara
nya dalam keadaan yatim/miskin.

-(Beliau orang yang waro’, qona’ah dan gigih)-
Beliau diserahi mengajar dan memimpin Madrasah Salafiyah Ibtidaiyah (MSI) yang di dirikan oleh Ayah Mertua beliau KH Mudzakir Fadholi.
Bersama Pengurus Salafiyah yang lain. Tugas itu beliau laksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab meskipun dengan imbalan honor/gaji yang sangat – sangat sedikit, sangat kurang untuk menopang kehidupan beliau.
Dari MSI yang berlokasi di Kauman Pekalongan dengan (6)enam lokal kecil pada awalnya, dan selanjutnya berkat kegigihan beliau dan para Pengurus Yayasan SALAFIYAH Kauman Pekalongan, sekolah itu berkembang pesat dalam waktu yang tidak lama, dan pada saat ini terdiri dari:
oMSI 01 KAUMAN
oMSI 02 KEPUTRAN
oMSI 05 SAMPANGAN
oSMP SALAFIYAH KAUMAN
oMA SALAFIYAH.

Pernah terjadi suatu hari beliau berkunjung ke rumah Wali Murid untuk berkonsultasi tentang anaknya, tiba–tiba beliau dilempar batu dari belakang oleh muridnya, sehingga orang tua murid tadi sangat malu dan memohon maaf kepada beliau, hal ini beliau hadapi dengan sabar dan tidak mempermasalahkan.

-(Beliau adalah seorang yang Alim Al Allamah)-
Setelah Ayah Mertua beliau yaitu Al Marhum Al Maghfurlah mbah KH Mudzakir wafat pada tahun 1975, disamping beliau memimpin sekolah, beliau juga melanjutkan pengajian Bapak Mertua bersama KH Ibnu Chajar bin KH Mudzakir yaitu pengajian kitabIhya’ ‘Ulumuddin dan berhasil mengkhatamkan 4 (empat) jilid, dan beliau tambahkan pula pengajian kitab Shokhih Bukhori. Dan banyak lagi kitab – kitab lain yang diajarkan kepada para Santri beliau.

Tak sedikit Kiai pekalongan pada saat itu yg bertabarukan kepada beliau, d antara nya: KH Mudzakir Asyhuri Banyu urip, KH Sumairi bin Mahsus Krapyak dan tak jarang Habib Ahmad bin Aly Al Aththos sering berkunjung ke kediaman beliau untuk berdiskusi masalah ilmu. Al arif billah Habib Abdurrahman Ba faqih Al Aththos pun sering mengunjungi kediaman beliau.

-(Beliau adalah seorang pejuang)-
Disamping kesibukannya memimpin sekolah, mengajar berbagai kitab kepada santri, beliau sempat pula terjun di berbagai kegiatan organisasi sosial seperti :

1.Rois Syuriyah PC NU Kota Pekalongan
Dalam kapasitas sebagai Rais ini dalam Haul ke tujuh (2008) Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff menceritakan bahwa beliau bersama Al Habib Abdullah Baqir bin Ahmad Al 'Aththos pernah mendapatkan rekomendasi dari Al Maghfurlah untuk membahas masalah Ahlus sunnah wal jama’ah di PB NU dan berhasil meluruskan buku tentang ahlussunnah wal jama’ah yang akan diterbitkan oleh PB NU.
2.Ketua Umum MUI Kota Pekalongan
3.Ketua I (satu) Yayasan SALAFIYAH Kauman Pekalongan
4.menjadi salah satu pengurus Yayasan Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang membawahi SMP Wahid Hasyim dan SMA Hasyim Asy’ari
5.Ketua Yayasan Khirzaddin yang didirikan oleh Almarhum Bpk H. Kamaludin Bachir
6.Pengurus serta aktifis -Majlis Musyawarah Diniyah- Pekalongan yang didirikan oleh Almarhum Bpk H. Junaid.
7.Beliau juga seorang yang sangat memperhatikan masalah ekonomi dengan aktif memberikan pertimbangan didirikannya Koperasi Pemuda Buana (KOPENA) dan mensupport gerakannya, dibuktikan dengan kesediaan beliau menjadi anggota Koperasi tersebut.
8.Beliau aktif pula memperhatikan permasalahan Haji yang antara lain dengan keikutsertaan beliau sebagai Penasehat di KBIH AS SALAMAH Kota Pekalongan.
9.beliau memprakarsai berdirinya Badan Amil Zakat (BAZ) di Kota Pekalongan dan menjadi salah seorang Pengurus yang tujuan utamanya untuk memberikan pemikiran santunan kepada Fuqara masakin/ekonomi lemah.

Ada beberapa catatan yang perlu kami sampaikan di sini:
1.beliau pernah mengadakan penelitian secara pribadi bersama – sama pengurus MUI yang lain tentang proses pemotongan hewan di lokasi pemotongan hewan (blandong), apakah proses pemotongan hewan itu sudah sesuai dengan syari’at Islam.
2.beliau pernah mengadakan penelitian secara pribadi bersama – sama pengurus MUI yang lain ke tempat – tempat praktek SMOKE COUTHING (dindong), dan hasilnya MUI memberikan fatwa Permainan Dindong termasuk perjudian dan mengajukan permohonan kepada Walikota Pekalongan agar permainan itu dilarang.
Dan Al Hamdulillah permohonan itu dikabulkan, Walikota melarang dan menutup permainan dindong.
3.beliau bersama pengurus MUI lainnya dan didukung oleh Ormas – Ormas Islam serta Pon Pes – Pon Pes di Pekalongan mengajukan usulan kepada Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat agar Gedung Pemuda yang mempunyai sejarah heroik / kepahlawanan Orang – Orang Pekalongan, dijadikan Masjid.

Dengan adanya usulan tersebut terpaksa beliau bersama dengan pengurus yang lain harus berhadapan dengan DPRD, Walikota dan Kejaksaan serta Orang – orang yang menentang waktu itu.
Memang nampaknya pada waktu itu, pada saat pemerintah sangat berkuasa, hal tersebut terasa merupakan hal yang sangat mustahil, tetapi Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesuatu yang kelihatannya tak mungkin terjadi, bisa saja terjadi atas ijin-Nya. Akhirnya terjadilah Reformasi di Indonesia, dan atas desakan para Pemuda dan seluruh lapisan Masyarakat, serta bantuan jasa dari Walikota Pekalongan bersama tokoh – tokoh lain, al hamdulillah sekarang telah berdiri dengan megah sebuah Masjid dengan nama MASJID AS SYUHADA’ sebagai monumen perjuangan para Pahlawan/Syuhada Pekalongan mempertahankan kemerdekaan NKRI pada tanggal 3 Oktober 1945.
Itulah sekelumit catatan tentang biografi beliau. Masih banyak lagi prilaku baik yang belum tercatat, dan masih banyak lagi mahasin, Fadhilah dan maziyyah beliau yang belum terungkap.

Beliau Al Markhum Al Maghfurlah kini telah tiada, telah meninggalkan kita semua, kewajiban kita bukan untuk bersedih berkepanjangan yang tak berujung. Tetapi yang penting Akhlaqul Karimah, perilaku baik, kesabaran, kesholehan, kegigihan, kejelian, ketelitian, ketaqwaan dan perjuangan beliau patutlah kita teladani dan kita teruskan perjuangan beliau untuk Islam, Bangsa dan Negara.

Marilah kita berdo’a mudah-mudahan kesalahan beliau selama hayat, diampuni oleh Allah SWT, dan semua amal baik, keshalihan beliau diterima dan dibalas oleh – Nya dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin.

Walahualam.... 

Alfatihah...

Sumur jiwa

Kiriman RN - GARDANU 3

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget