Articles by "budaya"


Tahlil Umum Haul KHR. ASNAWI;

-Ngajilah kepada para ULAMA', Janganlah kita sampai meninggal kan Ulama. Karena beliau sebagai penuntun kita semua.

-Allah mengambil ilmu itu bukan diambil dari dada seseorang, melainkan dengan cara mengambil jasad para ulama dimana pada diri ulama itulah terkandung ilmu yang banyak sekali. Seperti KHR. ASNAWI, KH. Ma'ruf Asnawi, KH. Yahya Arif, KH. Abdullah Faqih, KH. M. Arwani Amin, dll.

-Jika Ulama sudah banyak meninggal dunia, maka banyak bermunculan orang yang merasa pintar (iso-isonan) yang mengaku Ulama/ Kiai. Ketika orang itu dimintai fatwa, maka tidak tau betul persoalan masalah hukum.

-Semoga kita smua mendapatkan Barokah serta Karomahnya KHR. ASNAWI dan tumbuh generasi penerus KHR. ASNAWI dalam segala bidang.


SERBA-SERBI MAULID NABI
Oleh : Mohammad Bahauddin

Di bulan Rabi’ul Awwal yang lebih dikenal dengan bulan maulid atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya tanggal 12 rabi’ul awwal, biasanya kaum muslimin merayakan peringatan mauld Nabi Muhammad SAW, baik dirumah dengan mengundang tetangga dan handai taulan. Atau diadakan oleh lembaga, organisasi, masyarakat kampung dengan bentuk pengajian umum dan ceramah, ada juga dengan bakti sosial, khitanan masal, dan bentuk amal-amal sholeh yang lain.Yang menjadi pertanyaan, pernakah nabi Muhammad merayakan peringatan maulidnya? Dan sejak kapankah diadakan dan untuk apa? Lalu bagaimana hukumnya mengadakan peringatan mauled Nabi Muhammad SAW?

Jika menelusuri sejarah, ternyata Nabi Muhammad SAW  pernah memperingati kelahirannya dengan berpusa. Suatu ketika Nabi Muhammad ditanya: ان رسول الله صلي الله عليه وسلم سئل عن صوم يوم الإثنين؟ , ”Wahai rasul, mengapa engkau berpuasa hari Senin?” Rasul menjawab: فيه ولدت وفيه أنزل علي,  “Pada hari Senin itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula Al-Quran diturunkan padaku” Dengan demikian Nabi Muhammad merayakannya denga puasa yang kemudian di masyarakat kita dikenal dengan puasa weton (puasa kelahiran). Namun sejarah tidak pernah mencatat Rasulullah merayakan maulid dengan mengundang orang lain untuk bacaan shalawat, untu bacaan berberzanjian, dibaan dan pengajian umum. Alasannya kenapa? Karena Maulid Al-Berjanzi, Diba' dan lain-lain itu berisi sejarah dan pujian-pujian kepada Nabi; dan sejarah itu lahir setelah tokoh yang diceritakan itu wafat. Jadi alangkah lucunya jika Nabi membaca sejarahnya sendiri dan merayakanya sendiri dengan tepok-bernyanyi "HAPPY BIRTHDAY TO ME" seperti yang diinginkan orang-orang sana jika semua itu harus bersumber dan ada tuntutan dari Nabi, jika tidak mereka mengatakan "BID'AH...BID'AH...BID'AH". Sekarang,  coba jika mau merenung kutipan lagu yang sering dinyanyikan anak-anak TK, PAUD atau Shifir :
"Panjang umur(nya)...panjang umur(nya)... panjang umur(nya) serta mulia"

Kata ganti "nya" dalam bahasa Indonesia merupakan kata ganti ketiga dan kaidah bahasa Arab menyebutnya dengan dhomir ghoib". Ghoib adalah sesuatu yang tidak nampak, sesuatu yang abstrak, tidak dalam lingkungan komunikasi, tidak semasa dan lain sebagainya" Nah dari lagu itu kita seharusnya memahami jika yang patut merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad adalah yang termasuk orang yang ghoib (minal ghoibin) dan tak lain adalah kita umat Muhammad. Bukan para sahabat dan tabiin yang mana mereka termasuk minal hadirin "orang yang hidup semasa dengan Rasulullah, tau dengan mata kepala sendiri melihat Rasulullah" oleh karenanya Para sahabat tidak merayakanya.

Namun meskipun begitu Nabi Muhammad, Para sahabat dan para ulama' menuntun kita untuk melaksanakannya seperti berikut:

1. Nabi Muhammad SAW bersabda:
 مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَة
 “Barang siapa mengagungkan hari kelahiranku, maka aku akan memberikan syafa’at kepadanya dihari Kiamat"

2. Sayyiina Abu Bakar RA. berkata:
من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة
Barangsiapa membelanjakan satu  dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga

3. Berkata Sayyidina Umar RA.
من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام
“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.”

4. Berkata Sayyidina Utsman RA.:
من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين
“Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.”

5. Sayyidina Ali RA. berkata:
من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب
“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.”

6. Imam Hasan Bashri RA. berkata:
وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم
“Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan memperingati maulid Nabi SAW.”

7. Imam Junaed al-Baghdadi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya, berkata:
من حضر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان
“Barangsiapa menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW dan mengagungkan derajat beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagian dengan penuh keimanan.”

8. Imam Ma’ruf al-Karkhi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya:
من هيأ طعاما لأجل قراءة مولد النبي صلى الله عليه و سلم و جمع اخوانا و أوقد سراجا و لبس جديدا و تبخر و تعطر تعظيما لمولد النبي صلى الله عليه و سلم حشره الله يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين و كان فى أعلى عليين
“Barangsiapa menyediakan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengagungkan kelahiran Nabi SAW, niscaya Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para nabi dan dia akan ditempatkan di syurga yang paling atas (‘Illiyyin).”

9. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:
: ما من شخص قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ملح أو بر أو شيئ أخر من المأكولات الا ظهرت فيه البركة و فى كل شيئ وصل اليه من ذلك المأكول فانه يضطرب و لا يستقر حتى يغفر الله لأكله وان قرئ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ماء فمن شرب من ذلك الماء دخل قلبه ألف نور و رحمة و خرج منه ألف غل و علة و لا يموت ذلك القلب يوم تموت القلوب . و من قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا و خلط تلك الدراهم بغيرها و قعت فيها البركة و لا يفتقر صاحبها و لا تفرغ يده ببركة النبي صلى الله عليه و سلم
“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi saw. ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah akan mengampuni orang yang memakannya.

Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi saw. ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-hati itu.

Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi saw.”

10. Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata:
من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم
“Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.”

11. Imam Sirri Saqathi, semoga Allah membersihkan sir (bathin)-nya:
من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع الا لمحبة النبي صلى الله عليه و سلم . وقد قال صلى الله عليه و سلم : من أحبني كان معي فى الجنة
“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”

12. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:
مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان.
وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.
“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”

Nah, apakah kalau Nabi Muhammad SAW sahabat tidak pernah mengadakan peringatan maulid ini berarti mengada-ngada, dan apakah termasuk bid’ah? Mari kita mengkaji hukum peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi yang berjudul Husnul Maqasid fil Amal al-Mawalid. Beliau menjelaskan bahwa di zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin memang belum diadakan peringatan dalam bentuk upacara, shalawatan dan pengajian tentang maulid Nabi, sehingga ada sebagian kaum muslimin yang tidak mau memperingati kelahiran dengan bentuk upacara itu. Jadi, kapan peringatan kelahiran Nabi ini mulai dilaksanakan?

Sejarah menyebutkan bahwa sejak Islam berjaya dengan menaklukan romawi, Persia bahkan Eropa, banyaklah orang non muslim masuk Islam, termasuk orang-orang salib dari Eropa. Baik karena sukarela ataupun karena terpaksa. Hal ini menimbulkan dendam kaum Nasrani, akhirnya mereka membalas dendam dengan menjajah Timur Tengah. Maka berkobarlah perang salib. Kaum kafir membunuh orang islam, merampas kekayaan, dijauhkan dari Islamnya, dijauhkan dari Nabinya, dijauhkan dari sejarah kejayaan Islam. Yang ditampilkan oleh penjajah di hadapan kaum muslimin adalah tokoh-tokoh kafir, tokoh-tokoh fiktif sehingga rusaklah moral anak-anak muda, hancurlah kejayaan kaum muslimin, hilang keteladanan, hingga tidak kenla kehebatan Islam. Melihat kondisi umat yang terpuruk dan semakin jauh dari Islam, serta tidak punya semangat memperjuangkan agamanya, para ulama’ dan tokoh Islam mencari solusi bagaimana membangkitkan keislaman kaum muslimin dan melepaskan diri dari cengkraman tentara salib.Di antaranya seorang raja yaitu Al-Malik Mudhaffaruddin
Abu Sa’id Kaukabari bin Zainuddin Ali bin Buktukin (549-630 H, iparnya Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi mengundang para ulama’ dan masayikh ke istana untuk bermusyawarah, bagaimana membangkitkan semangat umat Islam, membebaskan diri dari penjajah, serta menanamkan kecintaan anak muda dan muslimin kepada Rasulullah, sehingga mau menteladani beliau. Dari musyawarah ulama tersebut akhirnya ada yang mengusulkan agar diadakan peringatan peristiwa bersejarah dalam Islam, diantaranya dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, yang kemudian dikampanyekan dengan besar-besaran, mengundang para penyair agar menulis syair pujian kepada Nabi, serta para ulama dan mubaligh yang bertugas menceritakan sejarah Nabi.Al-Malik Mudhaffaruddin menanggapi usulan ini dengan antusias. Tetapi ada yang tidak setuju, dengan alasan kerena peringatan seperti itu tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, dan itu berarti itu bid’ah. Menanangapi ketidak setujuan mereka, akhirnya dijawab oleh ulama’ yang hadir, bahwa dalam penjelasan tentang bid’ah itu tidak semua sesat. Menurut Imam al-Iz Abdussalam, Ibnu Atsar menjelaskan bahwa ada bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah. Bid’ah dholalah (sesat) adalah bid’ah yang tidak ada dasar hukummnya dan tidak ada perintah sama sekali dari syariat, sedangkan bid’ah hasanah adala suatu amalan yang dasar perintahnya sudah ada dari Rasulullah, namun teknisnya tidak diatur langsung dan itu bukan temasuk ibadah mahdah muqayyadah (ibadah murni yang telah ditentukan tata caranya).

Seperti sering dijelaskan bahwa ibadah itu ada dua macam. Pertama, ibadah mahdah muqayyadah yaitu ibadah murni yang tata caranya terikat dan tidak boleh diubah, karena perintah dan teknis pelaksanaannya contohkan langsung oleh Rasulullah, seperti shalat dan haji yang harus sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasul.Kedua, ibadah muthalaqah ghoiru muqayyadah, yaitu ibadah mutlaq yang tata caranya tidak terikat, perintahnya ada sedangkan teknis pelaksanaannya terserah masing-masing orang. Seperti berdzikir, perintahnya sudah ada namun teknisnya tidak ditentukan sebagaiman firman Allah:
فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ
Yang artinya: ”Berdzikirlah kalian dalam keadaan berdiri duduk, dan berbaring.” (QS an-Nisa)

Dzikir merupakan perintahnya, sedangakan teknisnya terserah kita, duduk, berdiri, berbaring dirumah, dimasjid sendirian, bersama-sama, suara pelan ataupun dengan suara keras tidak ada batasan-batasan, tergantung kepada situasi dan kondisi asal tidak melanggar ketentuan syariat. Membaca shalawat juga diperintahkan sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
Yang Artinya: ”Sesungguhnya Allah dan malaikat bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salan penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab56).

Perintah membaca shalawat ada sedangkan teknisnya terserah kita. Boleh sholawat yang panjang, pendek, prosa, maupun syair, yang penting bershalawat kepada rasullullah. Hal ini termasuk juga berdakwah, Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
Yang artinya: ”Serulah (manausia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS an-Nahl 125)

Berdakwahlah kamu ke jalan Allah dengan cara hikmah dan mauidzah hasanah atau wejangan yang baik. Perintahnya ada sedangkan teknis pelaksanaannnya terserah kita, boleh dalam bentuk pengajian umum, pengajian rutin di masjid, ataupun media TV, radio, koran, majalah,diskusi, maupun seminar. Semuanya dipersilakan, yang penting momentum dan misinya adalah dakwah.

Peringatan Maulid Nabi yang diisi dengan pembacaan shalawat kepada Rasul, pengajian umum, ceramah tentang kesadaran terhadap islam, membaca sejarah Nabi, amal saleh, bakti sosial, khitanan massal dan lain-lain itu merupakan ibadah mutlaqah ghairu muqayadah atau ibadah yang mutlaq dan tidak terikat tata caranya dimana perintahnya ada sedangakan pelaksanaannya terserah kita. Maka dengan demikian mengadakan peringatan Maulid Nabi yang diisi dengan pembacaan shlawat, pengajian umum dan perbuatan yang baik bukan termasuk bid’ah dlalalah, tapi tapi merupakan amrum muhtasan, yaitu “sesuatu yang dianggap baik” dan kalau kalau dilakukan secara ikhlas karena Allah maka akan mendapatka pahala dari Allah SWT. Demikian juga Sayyid Alwi Al-Maliki al-Hasani menjelaskan dalam kitab Mukhtashar Sirah Nabawiayah: “Bahwa memperingati Maulid Nabi bukan bid’ah dlalalah, tapi sesuatu yang baik”.

Kembali ke cerita acara yang dilaksanakan oleh Raja Mudhoffaruddin,  para ulama yang hadir dalam pertemuan itu memutuskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad itu boleh. Kemudian Al-Malik Mudhafar sendiri langsung menyumbang 100 ekor unta dan sekian ton gandum untuk mengadakan peringatan maulid Nabi muhammad SAW. Setiap daerah diundang penyair untuk membuat syair pujian dan shalawat kepada Nabi muhammad. Kitab-kitab yang tersisa hingga sekarang di antaranya yang dikarang oleh Syeikh al-Barzanji dan Syeikh Addiba’i.Ternyata dengan diadakannya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini sangat efektif untuk menyadarkan kaum Muslimin cinta kepada Rasul, sehingga seorang pemuda bernama Shalahudin Al-ayyubi menggalang anak-anak muda, dilatih fisiknya, disadarkan cinta Rasul, diajak membebaskan diri dari penjajahan tentara salib. Akhirnya, laskar Islam bersama panglima Shalahudin al-Ayyubi, bisa memenangkan perang salib pada tahun 580 H. Sejak tahun itulah peringatan Maulid Nabi SAW diadakan oleh negara muslim lainnya.

Masalah maulid Nabi ini sebenarnya sudah pernah dibahas dan dijawab oleh beberapa ulama', diantaranya:
1. Sekitar lima abad yang lalu Al-Imam Jalaluddin Al-Shuyuthi (849-910 H/1445-1505 M) pernah menjawab polemik tentang perayaan Maulid Nabi SAW. . Beliau mengatakan di dalam risalahnya “Husnu al-Maqshid Fi ‘Amal al-Maulid”. Beliau menyatakan seperti berikut:
“عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوِلِدِ الَّذِيْ هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ القُرْءَانِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ وَمَا وَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الآيَاتِ، ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْن­َ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذلِكَ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالاسْتِبْشَار­ِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ. وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ ذلِكَ صَاحِبُ إِرْبِل الْمَلِكُ الْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كَوْكَبْرِيْ بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ ابْنِ بُكْتُكِيْن أَحَدُ الْمُلُوْكِ الأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ وَالأَجْوَادِ، وَكَانَ لَهُ آثاَرٌ حَسَنَةٌ وَهُوَ الَّذِيْ عَمَّرَ الْجَامِعَ الْمُظَفَّرِيَّ­ بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ”.
Artinya: “Menurutku: pada dasarnya peringatan maulid, merupakan kumpulan orang-orang beserta bacaan beberapa ayat al-Qur’an, meriwayatkan hadits-hadits tentang permulaan sejarah Rasulullah dan tanda-tanda yang mengiringi kelahirannya, kemudian disajikan hidangan lalu dimakan oleh orang-orang tersebut dan kemudian mereka bubar setelahnya tanpa ada tambahan-tambah­an lain, adalah termasuk bid`ah hasanah (bid`ah yang baik) yang melakukannya akan memperoleh pahala. Karena perkara seperti itu merupakan perbuatan mengagungkan tentang kedudukan Rosululloh dan merupakan menampakkan (menzhahirkan) akan rasa gembira dan suka cita dengan kelahirannya (Rasululloh) yang mulia. Orang yang pertama kali melakukan peringatan maulid ini adalah pemerintah Irbil, Sultan Al-Muzhoffar Abu Sa`id Kaukabri Ibn Zainuddin Ibn Buktukin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun Al-Jami` Al-Muzhoffari di lereng gunung Qasiyun”.

2. Pernyataan Al-Imam Al-Hafizh Al-Sakhawi seperti disebutkan di dalam “Al-Ajwibah Al-Mardliyyah”, :
“لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ “بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَالَ أَهْـلُ الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُـدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ- يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ­ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْ­نَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَبَرَّاتِ، بَلْ يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ”. ثُمَّ قَالَ: “قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ”.
Artinya : “Perayaan Maulid Nabi Saw, belum pernah dilakukan oleh seorangpun daripada kaum Al-Salaf Al-Sholeh yang hidup pada tiga abad pertama yang mulia, melainkan baru ada setelahnya. Dan ummat Islam di semua daerah dan kota-kota besar senantiasa mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan kelahirannya Nabi Saw, yang mulia. Mereka mengadakan jamuan-jamuan makanan yang luar biasa dan diisi dengan hal-hal yang menggembirakan dan baik. Pada malam harinya, mereka berbagai-bagai sodaqoh, mereka menampakkan kegembiraan dan suka cita. Mereka melakukan kebaikan-kebaikan lebih daripada kebiasaannya. Bahkan mereka berkumpul dengan membaca buku-buku maulid. Dan nampaklah keberkahan Nabi dan Maulid secara menyeluruh. Dan ini semua telah teruji”.
Kemudian al-Sakhawi berkata: “Aku Katakan: “Tanggal kelahiran Nabi Saw, menurut pendapat yang paling shoheh adalah malam senin, tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal. Menurut pendapat lain malam tanggal 2, 8, 10 dan masih ada pendapat-pendapat lain. Oleh karenanya tidak masalah melakukan kebaikan ini dihari-hari yang istimewa ini baik siang maupun malamnya sesuai dengan kesiapannya saja, bahkan dianjurkan agar amalan baik ini dilakukan disepanjang hari dan malanya sebulan penuh.

Berdasarkan kesaksian para Imam ini, maka jelas sudah, bahwa PERAYAAN MAULID NABI SAW, ini merupakan sebuah adat yang dirintis oleh Raja Al-Muzhoffar..tidak ada nuqilnya dari Al-Salaf Al-Sholeh (tiga generasi pertama : Shohabat, Tabi’in, dan Tabi’i Al-Tabi’in). jadi karena perayaan Maulid Nabi ini merupakan sebeuah adat, maka berlakulah padanya Qoidah adat sesuai Ilmu Ushul Fiqih :
الأصل في العبادات المنع إلا إذا ورد بها الشرع والأصل في العادات الإباحة
“Asal hukum ibadah adalah dilarang, sehingga datang perintah dari Syara’ (Agama) untuk melakukannya. Sedangkan hukum ‘adat/kebiasaan itu adalah dibolehkan”.

الإباحة اصطلاحا هو ما لا حرج على المكلف في فعله ولا تركه لذاته ، أو هو ما خير بين فعله وتركه من غير تخصيص أحدهما بثواب ولا عقاب
“Ibaahah/Boleh” menurut istilah (secara Syari’at) ialah perbuatan yang tidak jadi dosa bagi orang MUKALLAF (Orang yang sudah tertuntut oleh hukum Syari’at), baik didalam mengerjakannya atau meninggalkannya, Atau bisa jadi diantara mengerjakan dan meninggalkannya itu lebih baik dengan tanpa harus menentukan salah satu dari keduanya itu dengan pahala atau siksa”.

يكون المباح حراماً إذا اختلط بمحرم أو كان وسيلة له
“Sesuatu yg dibolehkan bisa berubah jadi haram, jika di campuri dengan perkara yg di haramkan. Atau ia menjadi haram karena telah jadi sarana perantara untuk perkara yg diharamkan”.

المباح قد ينقلب مندوباً أو واجباً أو حراماً أو مكروهاً بالنية أو لكونه وسيلة, أن للوسائل حكم المقاصد, ويتغير الحكم بتغير القصد
“Al MUBAAH” (Perkara yg dibolehkan), sewaktu2 bisa berubah hukumnya menjadi sunat, wajib, haram dan makruh, tergantung bagaimana NIAT-nya atau karena keadaannya merupakan suatu wasilah/sarana perantara. maka untuk segala perkara yang hanya merupakan perantara itu berlaku padanya Hukum niat-nya (tergantung pada niatnya). Dan hukumnya itu bisa berubah, dengan berubahnya tujuan/niat itu sendiri”.

Al-Syaikh Ibnu Muflih Al-Maqdisi Al-Hambali dalam “Al-Adabu Al-Syar’iyyah”nya menyatakan sebuah Qoidah dalam menyikapi sebuah adat :
لا ينبغي الخروج من عادات الناس إلا في الحرم
“Tidak semestinya keluar dari adat-adatnya orang-orang kecuali dalam hal yang diharamkan”

Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari qaidah-qaidah ushul fiqih diatas :
1. Kita tidak boleh melakukan suatu perkara ibadah yang tidak ada dalil perintahnya dari agama. karena untuk melakukan suatu amalan ibadah itu membutuhkan perintahnya dari agama.
2. Adat kebiasaan yang sudah lumrah dan melekat ditengah-tengah kita boleh dilakukan selama tidak ada dalil larangannya dari agama.
3. Perkara yang mubah (dibolehkan) sewaktu-waktu bisa berubah menjadi : Wajib, Sunat, Haram dan Makruh, hal itu bisa terjadi karena :
a. Sebab niatnya untuk melakukan perkara mubah itu sendiri.
b. Sebab perkara mubah itu merupakan sarana perantara bagi suatu perkara yang sudah jelas ada dalil hukumnya itu perkara, apakah itu perkara baik yang tercakup oleh hukum wajib atau sunat, atau petkara itu merupakan perkara buruk yang tercakup oleh hukum haram atau makruh.
4. Tidak diharuskan bagi kita mencegah, menjauhi adat kebiasaan orang pada umumnya kecuali jika adat seperti itu memang diharamkan secara Syar’i.

Mudah-mudahan dengan peringatan Maulid Nabi hati kita semakin cinta kepada Rasulullah SAW. Dengan cinta kepada Rasulullah kita akan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya dan kita termasuk orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Sebagaimana sabda beliau yang artinya: “Orang-orang yang telah menghidupkan sunnahku maka dia berarti cinta kepadaku, dan orang-orang yang cinta padaku nanti akan bersamaku disurga.” Semoga kita dikumpulkan bersama Rasulullah SAW kelak disurga nanti.

Foto : Oleh Mohammad Bahauddin ( @ DESA LANGGARDALEM)




Kisah Dibalik Seungkep Nasi Buka Luwur

Buka Luwur merupakan salah satu tradisi masyarakat Kudus yang digelar setiap tahun. Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram. Tradisi ini juga sering disebut bodo-nya (lebarannya) orang Kudus. Dapat dikatakan demikian karena semua warga Kudus bisa menikmati hasil nasi brekat buka Luwur yang berisi nasi dan daging yang dibungkus dengan daun jati.

Rangkaian kegiatan Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus dimulai sejak akhir bulan Dzulqo'dah sampai Muharram. Kegiatan tersebut antara lain jamas Keris, penggantian kain mori, pengajian umum tahun baru hijriyah, bahtsul masail diniyyah, santunan yatim piatu, khotmil Qur'an, masak bubur asyura, masak nasi brekat buka luwur, pemasangan kain mori hingga pendistribusian nasi brekat buka Luwur. Semua rangkaian kegiatan buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus selalu diikuti oleh masyarakat, baik masyarakat Kudus maupun luar Kudus. Nasi brekat buka Luwur berjumlah hampir 30.000 Bungkus dengan total beras kurang lebih 6,5 ton yang di masak.

Ada beberapa hal yang menarik terkait Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus ini : Pertama, nasi brekat buka Luwur ini di yakini bisa untuk obat atau mengobati orang sakit serta bisa menjadikan tanaman (padi, jagung, dll) dengan hasil yang baik atau panen nya berhasil. Kedua, perolehan beras dalam buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus ini banyak menjadi patokan bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya. Jika beras yang didapat banyak sekali hingga sisa banyak, berarti sandanh pangan murah. Tetapi jika sebaliknya, beras sisa sedikit berarti sandang pangan mahal.

MC MIFROHUL HANA CHAMAMI

 



2 BATU ADALAH PERWUJUDAN DUA SINGA (INGON-INGONE MBAH PUSPOYUDO SINGOPADON):

 Ketika menghadiri Haul/ Buka Luwur Mbah Puspoyudo Singopadon atau SAYYID UTSMAN, Ada seorang tokoh masyarakat yang bernama Bapak Muslichan Al Qudsy.. beliau bercerita bahwa di depan pintu masuk makam Mbah Puspoyudo Singopadon atau SAYYID UTSMAN terdapat dua batu besar. Di percayai dua batu tersebut adalah DUA PERWUJUDAN SINGA. Konon dalam masa hidupnya, beliau mempunyai hewan peliharaan 2 Singa dan kuda putih.

 Ada beberapa kisah yang dialami oleh masyarakat sekitar:

1. Ada seorang peziarah yang ketika Ziarah ke makam Mbah Puspoyudo Singopadon atau SAYYID UTSMAN merasa sedang ditunggu oleh SINGA dibelakang nya (merasa mengkorog hatinya). Tapi selagi niat kita tulus ikhlas dan baik, insya Allah tidak di apa-apakan Singa nya.


2. Seorang pengusaha di desa KRANDON yang sering kali membaca kan/ mengirim berkah Surat Fatihah ke Mbah Puspoyudo Singopadon atau SAYYID UTSMAN dalam suatu hari rumahnya mau di Malingi oleh pencuri. Tetapi​ apa yang terjadi, pencuri itu tidak berani masuk kerumah Pengusaha Krandon tersebut dikarenakan melihat SINGA di depan rumahnya yang seakan-akan mau mengejar pencuri tersebut. Hingga akhirnya pencuri tadi lari terbirit-birit dan tidak jadi maling. Sampai saat ini masih ada tempat istirahat SINGA NYA Mbah Puspoyudo Singopadon atau SAYYID UTSMAN yang masih ada kejadian aneh disitu.

3. Ada seorang yang sedang lewat di sekitar makam Puspoyudo Singopadon atau SAYYID UTSMAN, tiba-tiba beliau melihat seekor kuda putih/ JARAN PUTIH yang sedang berlari menuju kompleks makam Mbah Puspoyudo Singopadon atau SAYYID UTSMAN yang hingga membuat merinding hati orang tersebut.

Wallahu A'lam. Marilah kita sering kali mendoakan orangtua/ mbah-mbah kita yang sudah meninggal agar kita bisa ta'dhim dan hormat kepada mereka sebagai wujud BIRRUL WALIDAIN. Seorang Waliyullah itu dirasa tidak meninggal dunia tetapi masih hidup.

Mc Mifrohul Hana Chamami

Foto oleh Mc Mifrohul Hana Chamami



" MBAH RIFA'I "

Ada hal yang berbeda dalam Peringatan BUKA LUWUR KANGJENG SUNAN KUDUS pada hari Sabtu Pon, 10 Muharram 1439 H./ 30 September 2017 H. Alhamdulillah rangkaian prosesi Buka Luwur berjalan dengan lancar. Pada acara puncak tersebut dirawuhi oleh HABIB UMAR MUTHOHAR dan tak lupa Bapak Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah juga ikut hadir.

Hal yang aneh terjadi terjadi ketika Sayid Umar Al Mutahar yang di dampingi KH. Choiruzad Tadjus Syarof, KH. Ulil Albab Arwani, Habib Abu Bakar, Mbah Chizam, dll .. ketika sampai di makam di sebelah Barat Pendiri Madrasah QUDSIYYAH KHR. Asnawi (tepatnya makam di sebelah paling barat dari makam para Pangeran), Beliau menyempatkan untuk berdoa beserta rombongan di makam tersebut.

Setelah beliau berdoa, kemudian dawuh : "INI MAKAM MBAH RIFA'I, WASILAH LAH KEPADA BELIAU UNTUK SANTRI-SANTRI YANG MALAS SEKOLAH AGAR BISA LEBIH BAIK". Semoga kita bisa ngalap BERKAH dan KAROMAHNYA BELIAU YA RABB.

Mc Mifrohul Hana Chamami

Foto oleh Mafaza

Jakarta, Kemendikbud — Liga Sepak Bola (Gala) Siswa Indonesia yang akan digelar pada 2018 mendatang merupakan titik awal pencarian bibit pemain sepak bola berbakat Indonesia usia 13-14 tahun. Ajang ini akan terus digelar secara serius dan berkelanjutan guna menyiapkan generasi emas Indonesia berlaga di Piala Dunia serta diharapkan mampu meraih juara pada 2046 mendatang.

Hal tersebut sesuai dengan peta jalan persepakbolaan tanah air yang telah disusun oleh Persatuan Sepak-Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selaku penyelenggara Gala Siswa Indonesia bekerja sama dengan PSSI dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) berupaya membina pemain sepak bola sejak usia dini.

“Kita (Kemendikbud,-) ingin berikan sumbangsih pada bangsa ini. Kemendikbud harus mengantarkan cita-cita itu,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, saat memberikan keterangan pers dalam Peluncuran Gala Siswa Indonesia 2018 di Hotel Sahid Jakarta, Senin (13/11/2017).

Mendikbud mengimbau, masyarakat khususnya pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan agar mendukung dan memfasilitasi anak-anak berbakat di bidang sepak bola. Hal ini, kata dia, semata-mata untuk  terus memajukan persepakbolaan Indonesia. “Sepak bola ke depan akan jadi bagian gaya hidup bangsa Indonesia,” tuturnya.

Gala Siswa Indonesia akan diselenggarakan secara berjenjang dan berkesinambungan mulai dari tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, dan tingkat nasional. Tidak hanya itu, para pemain berbakat dalam Gala Siswa Indonesia ini akan dipersiapkan untuk ajang kompetisi sepak bola tingkat internasional.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua KONI Pusat, Tono Suratman menyampaikan, Gala Siswa Indonesia adalah langkah strategis pembibitan pemain sepak bola di usia dini sehingga jelas akan terbangun karakternya. Ajang ini, kata dia, membantu menyiapkan atlet nasional terutama di cabang sepak bola. “Dengan ini (Gala Siswa Indonesia,-), Kemendikbud ikut membangun prestasi nasional,” katanya.

Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria menambahkan, melalui ajang ini PSSI memiliki dua target yaitu olahan data pemain untuk talent scouting (pencarian bakat) dan penguatan karakter pemain sejak dini. Para pemain, kata dia, akan terbiasa berlaga dan berkompetisi secara sehat. “Kami mengapresiasi Kemendikbud dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui sepak bola,” ucapnya. (Agi Bahari)



Kiai Haji Wahab Hasbullah merupakan seorang tokoh pergerakan dari pesantren.Sebagai seorang santri yang berjiwa aktivis, beliau tidak bisa berhenti beraktivitas, apalagi melihat rakyat Indonesia yang terjajah, hidup dalam kesengsaraan, lahir dan batin.Beliau tidak tega melihat kondisi bangsanya yang mengalami kemerosotan hidup yang mendalam, kurang memperoleh pendidikan, mengalami kemiskinan serta keterbelakanagan yang diakibatkan oleh penindasan dan pengisapan penjajah. Melihat kondisi itu, pada tahun 1916 beliau mendirikan organisasi pergerakan yang dinamai Nahdlatul Wathon (kebangkitan negeri), tujuannya untuk membangkitkan kesadaran rakyat Indonesia dan pada tahun 1918 mendirikan nahdlatul tujjar (kebangkitan saudagar) sebagai pusat penggalangan dana bagi perjuangan pengembangan Islam dan kemerdekaan Indonesia. Kiai Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin organisiasi ini, sedangkan Kiai haji Wahab hasbullah sebagai Sekretaris dan bendahara, dan Salah seorang anggotanya adalah Kiai Bisri Syansuri.
Pada tahun 1919 kiai haji wahab hasbullah mendirikan taswirul afkar karena perkembangan dunia yang semakin kompleks. Di tengah usaha melawan penjajah muncul persoalan baru di dunia Islam, yaitu terjadinya ekspansi gerakan Wahabi dari Najed, dan pada tahun 1924 Arab Pedalaman menguasai Hijaz tempat suci Mekah dan menaklukkan Madinah pada tahun 1925. Persoalan menjadi genting ketika aliran baru itu hanya memberlakukan satu aliran, yakni Wahabi yang puritan dan ekslusif. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali yang selama ini hidup berdampingan di Tanah suci itu, tidak diperkenankan lagi diajarkan dan diamalkan di tanah Suci. Tetapi, kelompok modernis Indonesia setuju dengan paham Wahabi. Oleh karena itu, Kiai haji Wahab membuat kepanitiaan beranggotakan para ulama pesantren, dengan nama Komite Hejaz yang bertujuan untuk mencegah cara beragama model Wahabi yang tidak toleran dan keras kepala, yang dipimpin langsung Raja Abdul Aziz.  
Untuk mengirimkan delegasi ini diperlukan organisasi yang kuat dan besar, maka dibentuklah organisai yanag diberi nama Nahdlatul Ulama, 31 Januari 1926. KH Wahab Hasbullah bersama Syekh Ghonaim al-Misri yang diutus mewakili NU untuk menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud.Usaha ini direspon baik oleh raja Abdul Aziz. Beberapa hal penting hasil dari Komite Hejaz ini di antaranya adalah, makam Nabi Muhammad dan situs-itus sejarah Islam tidak jadi dibongkar serta dibolehkannya praktik madzhab yang beragam, walaupun belum boleh mengajar dan memimpin di Haramain.



2.    Biografi KH. Wahab Hasbullah
                   KH. Wahab Hasbullah lahir pada 31 Maret 1888 di Jombang.Beliau adalah putra dari pasangan KH. Hasbullah Sa’id dan Nyai Latifah, pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur..
       Sejak kecil, KH.Wahab Hasbullah sudah dididik oleh ayahnya sendiri mengenai bagaimana cara hidup seorang santri.Beliau dilatih untuk shalat berjama’ah dan sesekali dibangunkan pada malam hari untuk shalat tahajud.Kemudian beliau dibimbing untuk menghafal Juz ‘Amma dan membaca Al-Qur’an secara tartil dan fasih.Selain itu juga, beliau juga dididik untuk mengenal kitab-kitab kuning.
     Setelah bekal ilmunya dianggap cukup, beliau memutuskan merantau untuk menuntut ilmu di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Disamping itu, beliau juga merantau ke Mekkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani.
          Pada saat di Makkah, selain belajar agama, KH.Wahab Hasbulloh juga mempelajari mengenai perkembangan politik nasional dan internasional bersama aktivis dari seluruh dunia.Kemudian sepulang dari Makkah, beliau tidak hanya mengasuh pesantrennya di Tambakberas, tetapi juga aktif dalam pergerakan nasional.
       Melihat kondisi bangsanya yang mengalami kemerosotan hidup yang mendalam, kurang memperoleh pendidikan, mengalami kemiskinan, serta keterbelakangan yang diakibatkan oleh penindasan penjajah. Kemudian beliau mendirikan organisasi pergerakan yang diberi nama Nahdlatul Wathan (kebangkitan negeri) pada tahun 1918 dengan tujuan untuk membangkitkan kesadaran rakyat di Indonesia. Untuk memperkuat pergerakan tersebut, beliau mendirikan juga Nahdlatul Tujjar (kebangkitan saudagar) sebagai pusat penggalangan dana bagi perjuangan pengembangan Islam dan kemerdekaan Indonesia.

       KH. Wahab Hasbullah merupakan seorang ulama’ yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan dalam berfikir dan berpendapat.Untuk itu, beliau membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (pergolakan pemikiran) di Surabaya pada tahun 1941.Kebebasan berfikir dan berpendapat yang dipelopori KH. Wahab Hasbullah dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan warisan terpenting kepada kaum muslim Indonesia. Beliau telah mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berfikir dan berpendapat dapat dijalnkan dalam nuansa keberagamaan yang kental. Prinsip ini tidak akan mengurangi ruh spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan prinsip kebebasan berfikir dan berpendapat, kaum muslimin justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman. 

KH. Mohammad Hasyim Asy’ari atau lebih dikenal dengan sapaan Mbah Kyai Hasyim,adalah pendiri Nahdlatul Ulama yaitu sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.. Beliau lahir pada tanggal 10 April 1875 atau dalam Islam nya bertepatan pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287 H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
KH. HasyimAsya’ri merupakan seorang putra dari pasangan Kyai Asy’ari dan Halimah. Beliau anak ketiga dari 11 bersaudara.Ayahnya merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras, sebelah selatan Jombang.Sedangkan kakeknya, Kyai Usman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang.Dan dari garis keturunan ibunya, KH. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan ke delapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).
Sejak kecil, KH. Hasyim Asy’ari telah terbiasa mendapatkan pendidikan dan nilai-nilai dasar Islam yang kokoh. Jiwa kepemimpinan dan kecerdasannya telah terlihat sejak kecil. Ketika berusia 13 tahun, beliau sudah membantu ayahnya mengajar santri-santrinya. Sejak berusia 15 tahun, beliau mulai berkelana menimba ilmu diberbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang,Pesantren Kademangan di Bangkalan serta Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Ketika KH. Hasyim Asy’ari memperdalam ilmunya di Pesantren Siwalan di Sidoarjo,beliau dinikahkan oleh salah satu putri Kyai Ya’qub, yakni Chadidjah. Kala itu beliau tengah berusia 21 tahun. Tak lama setelah menikah, beliau beserta istri menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Beliau kembali ke tanah air, setelah istri dan anaknya meninggal. Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Mekkah dan menetap disana. Selama 7 tahun di Mekkah dia berguru pada beberapa Syaikh.
Tahun 1899 KH. Hasyim Asy’ari kembali ke tanah air,dan mengajar di pesantren milik kakeknya. Tak lama setelah itu, beliau mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang. Tak hanya menjadi sosok Kyai yang dihormati masyarakat, beliau juga termasuk seorang petani dan pedagang yang sukses. Lewat pesantren inilah KH Hasyim melancarkan pembaharuan sistem pendidikan keagamaan Islam tradisional, yaitu sistem musyawarah. Ia juga memperkenalkan pengetahuan umum dalam kurikulum pesantren, yakni Bahasa Melayu, Matematika, dan Ilmu Bumi. Bahkan sejak 1926 ditambah dengan Bahasa Belanja dan Sejarah Indonesia.
Gurunya, Kyai Cholil Bangkalan yang juga dianggap sebagai pemimpin spiritual para Kyai Jawa, pun sangat menghormatinya. Dan setelah Kyai Cholil wafat, KH. Hasyim lah yang dianggap sebagai pemimpin spiritual para Kyai.
Awalnya hanya beberapa saja yang nyantri kepada KH.Hasyim Asy’ari. Lambat laun ada peningkatan menjadi ribuan santri yang menimba ilmu pada beliau. Setelah lulus dari Tebuireng, tidak sedikit diantara santrinya yang kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH. R As’ad Syamsul Arifin dan KH. Ahmad Shiddiq adalah beberapa ulama terkenal yang pernah menjadi santri beliau. Tak bisa dipungkiri pada abad 20 Tebuireng merupakan pesantren terbesar dan terpenting di Jawa, yakni sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran jika beliau diberi gelar Hadratus Syaikh (Tuan Guru Besar).
Karena peran pentingnya tersebut, KH. Hasyim Asy’ari menjadi pusat perhatian serius dan beliau sempat ditahan oleh penjajah. Menghadapi penjajah Belanda, KH. Hasyim menjalankan politik non-koorperatif. Banyak fatwa beliau yang menolak kebijakan pemerintah kolonial. Fatwa yang sangat familier adalah fatwa jihad,yakni “Wajib hukumnya bagi umat Islam Indonesia berperang melawanBelanda”. Dan “cinta tanah air adalah sebagian dari iman” merupakan jargon dari beliau untuk memberi semangat melawan penjajah.
KH. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi, tanggal 25 Juli 1947 bertepatan pada tanggal 07 Ramadhan 1366 H. Kala itu jam 9 malam sebelum wafat, beliau tengah menemui tamunya, yakni seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Kemudian KH. Hasyim Asy’ari mengalami pendarahan otak setelah mendapat kabar situasi pertempuran dankondisi pejuang yang semakin tersudut. Beliau dimakamkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Kepergian KH. Hasyim Asy’ari merupakan bela sungkawa yang amat dalam dari hampir seluruh lapisan masyarakat, khususnya para santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besar. Dari hidup sampai akhir hayatnya, beliau tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kementerian Agama melalui Direktorat pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) akan menggelar Peringatan Hari Santri 2017. Puncak Peringatan Hari Santri tahun 2017 akan dipusatkan di Kota Semarang, pada tanggal 21 Oktober 2017 mendatang.

Terkait persiapan puncak Hari Santri tersebut, Kasubag TU Dit. PD Pontren Abdul Rouf mewakili Direktur PD Pontren menggelar pertemuan dengan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi di Kantor Balaikota Semarang, Jumat (8/9). Dalam pertemuan itu, Abdul Rouf mengharapkan, kerja sama dan dukungan wali kota beserta jajarannya untuk suksesnya Peringatan Hari Santri tahun 2017.

“Kami mengharap dukungan kepada bapak wali kota untuk mengizinkan Kota Semarang menjadi tempat perhelatan Peringatan Hari Santri,” ujarnya.

Menurutnya, Peringatan Hari Santri merupakan momentum penting peran kontributif santri bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Dikatakannya, untuk tahun 2017, tema Hari Santri 2017  adalah: Wajah Pesantren, Wajah Indonesia..

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi sangat mengapresiasi dan mendukung penuh pelaksanaan Peringatan Hari Santri tahun 2017 yang digelar tanggal 21 Oktober 2017 nanti.  “Kami izinkan penggunaan lapangan Simpang Lima Semarang sebagai lokasi puncak Peringatan Hari Santri 21 Oktober 2017 ,” ucapnya.

Wali Kota juga berjanji akan membantu publikasi Peringatan Hari Santri tahun 2017 di sejumlah titik media publikasi milik Pemerintah Kota Semarang. Ia juga akan mengintruksikan seluruh jajaran Pemerintah Kota Semarang untuk bahu membahu mensukseskan pelaksanaan Peringatan Hari Santri tahun 2017 di lapangan Simpang Lima Semarang.
Sumber : kemenag.go.id

JAKARTA – Hari Satri Nasional 22 Oktober 2016 mendatang bakal dirayakan dengan berbagai kegiatan berskala nasional. Antara lain akan digelar Parede Nusantara Bersholawat. Dari parade ini ditargetkan sedikitnya 1 Miliar kali sholawat nariyah dapat dibacakan serentak secara nasional.
“Kemakmuran apa yang kira-kira akan diraih oleh bumi nusantara ini dengan nariyah. Bismillah, Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad,” kata Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini saat rapat perdana Panitia Hari Santri Nasional di Jakarta, Rabu (31/8/2016).
Menurut Helmy Faishal, Shalawat Nariyah dalam Parade Nusantara Bersholawat ini akan dibacakan secara serentak oleh kader santri NU dari Aceh sampai Papua. Shalawat Nariyah, imbuhnya, adalah amalan yang diijazahkan oleh para ulama masyhur di NU.
“Beberapa ulama NU mengijazahkan kepada kita untuk membacanya 4444 kali secara istiqomah dalam waktu yang ditentukan,” paparnya.
“Shalawat Nariyah adalah untuk menghilangkan rasa dendam anak bangsa ini,” imbuhnya lagi.
Selain pembacaan shalawat, panitia peringatan Hari Santri Nasional juga akan menggelar Kirab Resolusi Jihad dari Banyuwangi sampai Banten di rangkai dengan Apel upacara Hari Santri, Festival Film, Pagelaran Budaya, Musabaqah Santri Indonesia, dan Bhakti Santri untuk Negeri. (DS)

Resolusi Jihad NU yang dicetuskan Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945 belum dicabut sampai sekarang. Sehingga isi dari resolusi tersebut masih berlaku Di antara isinya, bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum agama Islam, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam.
Untuk menatapktilasi resolusi tersebut, PBNU akan menggelar Kirab Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 2016. Menurut Sekretaris Jenderal PBNU Ishfah Abidal Aziz, warga NU sangat antusias sekali pada momentum kirab tersebut karena gairah reslusi tersebut.
“Antusiasme warga NU begitu luar biasa, bukan soal hari santrinya, tapi gairah Resolusi Jihadnya. Ketika didorong, dimunculkan kembali gairah Resolusi Jihad NU, antusiasme warga NU sangat luar biasa. Di situ ketemunya,” ungkapnya di gedung PBNU, Jakarta, Selasa sore (19/9).
Ketika ditanya kenapa warga NU bergairah kepada kirab tersebut, ia sepakat dengan apa yang dikatakan Panglima TNI pada peringatan Hari Santri Nasional tahun lalu. Menurut panglima, Reolusi Jihad NU yang disampaikan Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’arit sejak dikumandangkan, sampai saat ini belum dicabut.
“Artinya, masih berlaku, wajib bagi warga NU untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.
Kirab Resolusi Jihad NU 2016 dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional akan dimulai dari Banyuwangi (Jawa Timur) sampai Cilegon (Banten) mulai 13 Oktober sampai 21 Oktober. Pada 22 Oktober akan digelar upacara peringatan Hari Santri Nasional. Tempatnya direncanakan di Tugu Proklamasi atau di Lapangan Banteng. (Abdullah Alawi. NU Online)

Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) KH Abdul Ghoffar Rozien menyerukan agar Presiden Joko Widodo menepati janjinya dalam kampanye. Jika Presiden pernah mengusulkan 1 Muharam, RMI berpendapat 22 Oktober lebih tepat karena alasan historis.
“Ribuan pesantren dan jutaan santri sudah menunggu keputusan Presiden terkait dengan Hari Santri Nasional. Kebijakan itu, menguatkan marwah negara,” ungkap Rozien
Ia mengatakan, langkah presiden Jokowi sudah tepat untuk memberikan penghormatan kepada santri, karena jasa-jasa pesantren di masa lalu yang luar biasa untuk memperjuangkan kemerdekaan serta mengawal kokohnya NKRI,” terang Gus Rozien.
Menurut Gus Rozien, latar belakang pentingnya Hari Santri Nasional adalah untuk menghormati sejarah perjuangan bangsa ini. “Hari Santri Nasional tidak sekadar memberi dukungan terhadap kelompok santri. Justru, inilah penghormatan negara terhadap sejarahnya sendiri. Ini sesuai dengan ajaran Bung Karno, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah, Jas Merah!” tegasnya.
Tiga Alasan Dasar
Gus Rozien menambahkan, ada tiga argumentasi utama yang menjadikan Hari Santri Nasional sebagai sesuatu yang strategis bagi negara. “Pertama, Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari. Ini peristiwa penting yang menggerakkan santri, pemuda dan masyarakat untuk bergerak bersama, berjuang melawan pasukan kolonial, yang puncaknya pada 10 Nopember 1945,” ungkap Gus Rozien.
Kedua, lanjutnya, jaringan santri telah terbukti konsisten menjaga perdamaian dan keseimbangan. Perjuangan para kiai jelas menjadi catatan sejarah yang strategis, bahkan sejak kesepakatan tentang darul islam (daerah Islam) pada pertemuan para kiai di Banjarmasin, 1936.
“Sepuluh tahun berdirinya NU dan sembilan tahun sebelum kemerdekaan, kiai-santri sudah sadar pentingnya konsep negara yang memberi ruang bagi berbagai macam kelompok agar dapat hidup bersama. Ini konsep yang luar biasa,” tegas Gus Rozien.
Rumusan ketiga, ungkap Gus Rozien, yakni kelompok santri dan kiai-kiai terbukti mengawal kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Para kiai dan santri selaluh berada di garda depan untuk mengawal NKRI, memperjuangan Pancasila. Pada Muktamar NU di Situbondo, 1984, jelas sekali tentang rumusan Pancasila sebagai dasar negara. Bahwa NKRI sebagai bentuk final, harga mati yang tidak bisa dikompromikan,” jelas Gus Rozien.
Dengan demikian, Gus Rozien menambahkan, Hari Santri bukan lagi sebagai usulan ataupun permintaan dari kelompok pesantren. “Ini wujud dari hak negara dan pemimpin bangsa, memberikan penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri. Kontribusi pesantren kepada negara ini, sudah tidak terhitung lagi,” tegas Rozien.
Sementara, adanya kritik terhadap rencana penetapan Hari Santri Nasional, menurut Gus Rozien merupakan hal yang wajar. “Itu merupakan hak bagi setiap individu maupun kelompok untuk memberikan kritik. Kami merespon dengan baik dan santun. Akan tetapi, jelas argumentasi epistemiknya lemah jika menggunakan teori Gertz, yang sudah dikritik sendiri oleh kolega-koleganya, semisal Talal Asad, Andrew Beatty, Mark R Woodward, dan beberapa peneliti lain. Selain itu, kelompok abangan juga sudah banyak yang melebur menjadi santri,” terang Rozien. (Aziz/Mahbib)

Semarang  - Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengharapkan Hari Santri menjadi momentum kebangkitan untuk melawan paham dan aksi-aksi radikalisme, serta terorisme.

"Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir tidak lepas dari peranan santri. Peringatan Hari Santri ini sebagai bukti jika santri bisa membangun bangsa," katanya, di Semarang, Sabtu.

Hal tersebut diungkapkan Prihadi di sela peringatan Hari Santri Nasional yang berlangsung di Balai Kota Semarang yang dimeriahkan dengan berbagai kegiatan.

Menurut dia, peranan santri dan alim ulama di Indonesia sangatlah besar, terutama saat perebutan kemerdekaan Indonesia, yang membuktikan kontribusi perjuangan agar Indonesia lepas dari penjajah.

Hari Santri Nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden  Nomor 22/2015 tentang Hari Santri, kata dia, haruslah dimaknai sebagai momentum memperteguh diri dalam NKRI.

"Hari Santri Nasional adalah perekat seluruh masyarakat. Hidup Santri!," seru Prihadi, yang langsung disambut tepuk tangan menggema dari para peserta dan tamu undangan yang hadir.

Peringatan Hari Santri Nasional di Balai Kota Semarang berlangsung meriah dengan berbagai pertunjukan oleh santri, seperti pencak silat, drum band, serta pementasan barongsai. Temanya adalah "Merajut Kebhinnekaan dan Kedaulatan Indonesia"

Suasana semakin khidmat saat seluruh peserta upacara menyanyikan bersama lagu mars Syubbanul Wathon dan seiring secara serentak mengibarkan-ngibarkan bendera Merah Putih yang mereka bawa.

Selain itu, juga dilakukan penandatanganan deklarasi santri Kota Semarang menolak radikalisme dan narkoba.
Usai upacara, para santri berjalan kaki dari Balai Kota Semarang, Jalan Pandanaran, Simpang Lima, menuju Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang untuk mengikuti tahlilan massal.
Editor: Ade Marboen
sumber. antara news

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget