Tausiyah Maha Guru Mulia Syaihuna KH. Syukron Ma’mun dalam acara Halal Bihalal Angkatan 18


Tausiyah  Maha Guru Mulia Syaihuna KH. Syukron Ma’mun dalam acara Halal Bihalal Angkatan 18
Senin, 8 Juni 2020

Secara garis besar ada 7 wasiat penting dari Pak Kyai yang berhasil diresume sebagai berikut:
1. Kita Kembali diingatkan dengan wejangan pak Kyai 23 tahun yang lalu dalam acara Haflatul Wada’ bahwa tidak ada “sekolah nasib”.  Bisa saja pondoknya sama, kelasnya sama,  gurunya sama, tetapi nasibnya berbeda. Orang yang profesinya sama juga bisa nasibnya berbeda. Sama dokternya, sama pedagangnya, tetapi ada yang rame dan ada yang sepi, semuanya tidak ditentukan oleh sekolahnya.

2. Jadilah “Ikan Hidup”. Ciri hidup adalah bergerak dan tumbuh. Kalo hanya bergerak saja, bisa kemungkinan gerakannya disebabkan oleh angin. Tetapi yang bergerak dan tumbuh, itu adalah tanda dia hidup. Jangan menunggu bola tetapi kejarlah bola, jangan minta pekerjaan, tetapi ciptakanlah pekerjaan.

3. Jangan minta dihormati, tapi hormatilah orang lain. Jangan minta dihargai, tapi hargailah orang lain. Seseorang yang minta dhormati berarti ia belum terhormat, dan seseorang yang minta dihargai, berarti dia tidak berharga.

4. Kejadian di alam ini bisa dan boleh dikaji secara ilmiah, tapi iman tetap harus menjadi pegangan. Imam al-Ghozali menyatakan, jika engkau takut pada anjing helder, jangan kau lawan anjing itu, tapi dekatilah yang punya anjing, niscaya dia akan berhenti mengejarmu dan tidak akan menggongong ataupun menyakiti kamu saat bertemu, karena kamu kenal dengan yang memilikinya. Adanya virus corona seperti saat ini, kita harus mendekati yang memilikinya, karena alam semesta dan seisinya adalah milik Allah, maka jangan lupa untuk mendekat kepada Allah SWT agar terhindar dari virus corona, jangan hanya berpegang pada protocol Kesehatan saja dengan cara melakukan isolasi. Di dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa isolasi diri tidak akan dapat menyelamatkan dirimu dari kematian Allah SWT berfirman:  
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ...... (النساء: 78)
Artinya: di manapun kamu berada, kematan tetap akan menemuimu, meskipun engkau berada dalam benteng yang tinggi maupun kokoh........ (QS. Al-Nisa’: 78).

Pada masa pandemi seperti sekarang ini yang harus kita lakukan adalah ikhtiyar dan tawakkal.

5. Bagi anak-anakku yang saat ini telah menjadi da’i, kyai atau panutan masyarakat saya pesan bacalah kitab Ihya’ Ulumuddin bab “Afatul Ilmi” baca penjelasan tentang ulama’ dunia dan ulama’ akhirat.

 Selama ini yang sering dibaca hanya muqaddimahnya saja, yang menjelaskan tentang keutamaan orang yang memiliki ilmu. Baca bab tersebut agar kalian bisa menjadi umat terbaik “Khoiro ummah”, caranya dengan menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kalian, Apapun profesinya, jadilah teladan untuk orang lain. Yang menjadi pegawai, jadilah teladan untuk pegawai lainnya, yang menjadi guru, jadilah teladan untuk guru-guru lainnya. Jangan minta jasa, tapi berjasalah. Kalau kalian ingin agar masyarakat menjadi budak kalian, maka berbuat baiklah pada mereka, berjasalah untuk mereka, karena “al-Insanu Abdul Ihsan” manusia itu budak dari kebaikan.

6. Apa yang saya lakukan saat ini merupakan pelaksanaan ajaran dan wasiat dari guru saya KH. Imam Zarkasyi. Pernah suatu ketika beliau memanggil kami murid-muridnya, kemudian bertanya: “tahukah kalian siapa itu orang penting?” ada di antara kami yang menjawab: “Kyai”. Jawaban tersebut dianggap salah, kemudian ada yang menjawab: “pemimpin”, jawaban tersebut juga dianggap salah oleh KH. Zarkasyi, kemudian ada juga yang mnjawab: “orang kaya”, dan KH. Zarkasyi secara tegas mengatakan bahwa jawaban itu salah. Setelah itu Kyai Zarkasyi menjelaskan dengan kalimat yang Jaami’  (kalimat ringkas tapi penuh makna) bahwa yang disebut orang penting adalah: “orang yang mementingkan kepentingan orang lain”. 

Pernah suatu ketika saya diminta oleh Kyai untuk mencari dana untuk pondok, karena Kyai Zarkasyi tahu bahwa saya punya banyak kenalan orang kaya di wilayah Ponorogo, tetapi saya tidak berhasil, dan ketika menghadap Kyai beliau berkata: “saya tahu mengapa kamu tidak berhasil dalam mencari dana, itu karena kamu merasa malu. Tahukah kamu, bahwa kalau kamu meminta dana untuk kepentinganmu sendiri, itu kamu boleh malu, tetapi jika kamu meminta dana untuk kepentingan pondok, maka kamu adalah seorang pahlawan, karena itu kamu tidak boleh malu. Itulah ajaran Kyai Zarkasyi yang menjadi bekal saya terjun di Ibu Kota Jakarta.

7. Tadi saya dengar ada yang ingin meminta berkah kepada saya, karena itu akan saya perjelas, bahwa barokah itu hanya milik Allah, karena itu mintalah barokah kepada Allah. Memang benar ada ungkapan “berkah orang tua”, sebetulnya itu harus dilengkapi kata-katanya, yaitu: berkah karena berbakti kepada orang tua. Ada juga berkah al-Qur’an, seharusnya berkah karena membaca al-Qur’an. Apa bisa seseorang hanya membeli al-Qur’an tanpa membacanya kemudian mendapat barokah?. Saya termasuk orang yang dapat berkah orang tua saya, meskipun tidak banyak bakti yang saya lakukan. Karena dulu, setiap pulang dari pondok, saya selalu mendahulukan perintah ibu saya daripada yang lainnya, saya pergi ke pasar belanja sayuran untuk melaksanakan perintah ibu saya, padahal belanja sayuran itu hanya dilakukan oleh anak perempuan, tetapi karena saya ingin berbakti pada ibu saya, maka itu saya lakukan dan saya tidak merasa malu sedikitpun, mungkin karena itulah saya dapat berkah orang tua.
Dalam setiap sholat kita membaca “wa Baarik ‘ala Sayyidina Muhammad kamaa Baarokta ‘ala Sayyidina Ibrohim”. Kenapa kita diperintahkan untuk bersholawat kepada Nabi? Itu adalah salah satu hikmah agar tidak menuhankan Nabi, dan tidak menganggap Nabi sebagai anak Tuhan.
Sesi Tanya Jawab:

1. Pertanyaan: Bagaimana cara mendekatkan diri pada Allah sebagai pemilik alam semesta agar kita terhindar dari pandemi ?
Jawaban Pak Kyai: musibah yang terjadi ini harus bisa dijadikan pelajaran. Jangan karena ingin ilmiah, lalu iman dicopot, dan jangan karena iman, lalu pandangan ilmiah tidak digunakan, keduanya harus seimbang. Perbanyaklah baca sholawat dan istighosah secara berjamaah tetapi tetap berpegang pada protokol kesehatan. Misalnya baca sholawat di masjid, 10 – 40 orang dengan saling menjaga jarak, dan dilaksanakn di masjid-masjid, jika sampai 1000 masjid melakukannya, maka itu akan menjadi doa yang luar biasa.

2. Pertanyaan: Kami telah merasakan cinta pak Kyai sejak di pesantren selama 6 tahun, dan sampai saat ini belum bisa membalas cinta pak Kyai itu, bagaimana agar kami bisa membalasnya? 
Jawaban Pak Kyai: ولا اسئلكم اجرا    , saya tidak minta kalian untuk membalas jasa kepada saya. Tetapi jika kalian bisa melaksanakan apa yang saya sampaikan sesuai kemampuan kalian, hingga 90 % atau minimal 50 %, itu sudah termasuk membalas jasa pada saya. Pegangan saya adalah sabda Nabi kepada Sayyidina Ali: 
لان يهدي الله بك رجلا واحدا خير من الدنيا وما فيها
“Wahai Ali, jika Allah memberi petunjuk satu orang karena kamu, maka itu adalah lebih baik daripada dunia dan isinya”
Jadi, jika kalian mampu melaksanakan apa yang telah saya sampaikan, itu berarti Allah telah memberikan petunjuk kepada kalian karena saya. Dan itu cukup bagi saya. Laksanakanlah semampu kalian (مااستطعتم ).

" Alumni ponpes Daarul Rahman Angkatan 18 "

Kiriman Gus Ansa - Aliansi Santri NUsantara

-------------------------------------------------------------------------------
Mohon doa, bimbingan, arahan dan nasehat serta motivasinya selalu. 🙏🙏

#LsmAqilaQuds
#AlmasBatrisyia
#GandrungSembako
#AngkringanGrahaElpiji
#H2_KrandonMajuBarokah
Label:

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget